Berita Bojonegoro
Kang Yoto: Siapa yang Gagal Berubah, maka Lebih Cepat Pada Kematian
“Lalu ditahun-tahun kemudian kita mampu bersaing tak hanya pertahanan, namun bersaing dengan karya di tengah bangsa-bangsa di dunia,” katanya.
Penulis: Iksan Fauzi | Editor: Musahadah
SURYA.co.id I BOJONEGORO - Bupati Bojonegoro, Suyoto menjadi inspektur upacara Hari Kebangkitan Nasional ke 108 di Alun-Alun setempat, Jum’at (20/5/2016).
Upacara diikuti ratusan pelajar, mahasiswa, organisasi sosial kemasyarakatan, dan pemuda, Pegawai Negeri Sipil dan aparat keamanan.
Dalam kesempatan itu, Suyoto yang akrab dipanggil Kang Yoto menilai kebangkitan bermakna tahu siapa jati dirinya dan nasionalisme.
Tahun 1928, bangsa Indonesia bangkit menggelorakan satu bangsa dan bahasa. Kemudian tahun 1945 bangkit menyatakan kemerdekaan bangsa.
“Lalu ditahun-tahun kemudian kita mampu bersaing tak hanya pertahanan, namun bersaing dengan karya di tengah bangsa-bangsa di dunia,” katanya.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional, kata Kang Yoto momentum tepat untuk merenung memperkuat diri. Mengingat, saat ini memasuki era kompetisi.
“Siapa yang gagal berubah dan memenangkan, maka jauh lebih cepat kematian baginya,” pesannya.
Daya saing dan kompetitif bangsa pada hari ini ditentukan daya saingnya oleh karya, barang siapa yang tak berkarya, maka tak akan ada kemandirian.
Dengan karya yang kompetitif maka bangsa Indonesia akan memiliki martabat.
“Tidak ada karya yang mampu berdaya saing tanpa dukungan pengetahuan dan nilai seni. Ayo bangkit berkarya” tegas politisi PAN ini kepada para generasi muda peserta upacara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/harkitnas-bojonegoro_20160520_151837.jpg)