Minggu, 3 Mei 2026

Darah, Tulang Hingga Tengkorak 'Dihilangkan' dari Karya Seniman Urban Surabaya ini

#Surabaya "Kami memang tak ingin public melihat tengkorak, tulang, atau darah berceceran dimana seperti kesan street art selama in,” tandas X-Go.

Tayang:
Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id/Achmad Pramudito
Veronique Mathelin (Direktur IFI Surabaya) dan Lucas Lefebvse, Wakil Direktur IFI Surabaya sedang menyaksikan karya-karya seniman Street Art. 

SURYA.co.id I SURABAYA - “Mural/lukisan dinding ini dilengkapi dengan kamera CCTV. Barangsiapa dengan sengaja menempel/merusak/mengotori akan dikenakan sanksi oleh dinas terkait.”

Sekilas pengumuman yang terkesan resmi ini dilengkapi logo Pemkot Surabaya. Namun setelah didekati baru ketahuan logo bersegi enam itu ternyata bukan gambar ikan suro dan buaya sebagai lambang kota Surabaya, melainkan kuas dan rol.

Yang makin membuat kreasi ini menggelitik, ada tambahan hastag #pesonamuralSurabaya di bagian atas, dan di bawahnya ditambahi tulisan Dewan Kesenian Jalanan Surabaya. “Ini bentuk kritik kami pada pemkot,” tegas X-Go dari seniman urban memapar karya yang dipajang di Galeri AJBS, Kamis (12/5/2016).

Menurut X-Go, selama ini Pemkot Surabaya tak pernah merespons kreativitas seniman urban (street art). Akibatnya, para seniman jalanan ini pun bergerak dan mencari jalannya sendiri-sendiri.

Pameran Seni Urban “Muda Liar Berbahaya” yang disajikan Institut Francais Indonesia (IFI) ini berlangsung hingga 19 Mei mendatang. Karya yang dipamerkan antara lain dalam bentuk kanvas, maket, manekin, lemari, dan kendaraan roda empat.

Semua karya yang ditampilkan terkesan menonjolkan warna-warna ceriah. Sama sekali tak terlihat seram yang selama ini menjadi identitas street art. “Kami memang tak ingin public melihat tengkorak, tulang, atau darah berceceran dimana seperti kesan street art selama in,” tandas X-Go.

Ditekankan X-Go, kritik atau ungkapan hati tak harus diekspresikan lewat gambar-gambar yang mengerikan. Meski diwujudkan lewat warna meriah, karya-karya itu tetap penuh pesan.

“Masyarakat itu kan sehari-harinya sudah sumpeg. Jadi kami ungkapkan pesan itu dengan lebih menyenangkan, supaya bisa menghibur juga,” bebernya.

Kritik yang disampaikan para seniman urban ini diakui Veronique Mathelin, Direktur IFI Surabaya, juga ada di Prancis.

“Karena itu, untuk kali ini kami coba dulu menghadirkan karya street art Surabaya di acara Printemps Francais ini. Berikutnya bisa jadi kami mengundang street art Prancis untuk kolaborasi dengan seniman di sini (Surabaya),” katanya.

Pameran Seni Urban “Muda Liar Berbahaya” ini menghadirkan karya-karya seniman yang tergabung dalam komunitas Bunuh Diri Studio dan Serikat Mural Surabaya.

Kegiatan pameran ini juga diisi workshop seni urban, forum diskusi, launching klip video grup musik ska asal Surabaya, dan lapakan seni urban.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved