Berita Magetan

11 Mahasiswa Universitas Brawijaya Tersesat di Gunung Lawu Ternyata Hoax, Ini Penjelasannya

#MAGETAN - "Selain sinyal sulit, hampir semua HP pendaki low bat jadi orangtua masing masing sulit menghubungi."

11 Mahasiswa Universitas Brawijaya Tersesat di Gunung Lawu Ternyata Hoax, Ini Penjelasannya
Tribun Jateng/Rudi Hartono
ILUSTRASI - Gunung Lawu saat kebakaran tahun lalu. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Kabar tentang tersesatnya sebanyak 11 mahasiswa Universitas Brawijaya Malang di puncak Gunung Lawu, hanya hoax (bohongan).

Kepala Humas PT Perhutani Lawu DS, Eko Susanto menyebutkan berita yang beredar tidak benar, karena Jumat (6/5/2016) sekitar pukul 16.00 WIB, ke-11 mahasiswa itu sudah turun dan kembali ke Malang.

"Kabar itu jadi booming karena rasa sayang orangtua. Begitu handphone anaknya tidak bisa dihubungi mereka langsung membuat laporan tersesat," kata Eko Susanto yang dikonfirmasi SURYA.co.id, Sabtu (7/5/2016).

Laporan orangtua itu, lanjut Eko, sampai ke masyarakat dan wartawan sehingga kabar itu jadi heboh.

"Kalau teman taman yang mau cross cek, kabarnya jadi jelas. Kalau tidak malah beritanya jadi ngawur," kata Eko, yang sampai sekarang mengaku masih piket di Pos Sarangan.

Dikatakan Eko, berita itu awalnya beredar setelah orangtua dari salah seorang pendaki dari UB ini menghubungi anaknya, tapi tidak bisa tersambung.

"Ke-11 pendaki itu naik Kamis (5/5/2016) sekitar pukul 15.00 sesuai laporan dan surat pernyataan yang ditandatangani Dwi Narko pimpinan pendaki. Diperkirakan sampai Puncak Lawu Kamis (5/5/2016) sekitar pukul 21.00," jelas Eko.

Dikatakan Eko, di puncak Lawu, sinyal seluler sulit. Karena puncak Lawu berada di atas menara seluler sehingga sinyal tidak bisa ditemui.

"Selain sinyal sulit, hampir semua HP pendaki low bat jadi orangtua masing masing sulit menghubungi. Dari putus kontak ini, orangtua membuat laporan anaknya tersesat," katanya.

"Ke-11 pendaki Jumat (6/5) sore sudah keluar dari pintu pendakian dalam keadaan sehat. Karena memang tidak tersesat. Jadi kabar itu hanya salah komunikasi," kata Eko.

Ke-11 pendaki yang dipimpin Dwi Narko, masing masing Umi Slamah, Deny Selma, Dewi Estiany, Eka Dea, Astherix, Yudi Kristianto, Rido Prasojo, M Kojen, Indah Neni, dan Artha Marga. 

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved