Berita Surabaya
Lihat Teatrikal Journalist Surabaya untuk Kebebasan ini, Sampai 'Berdarah-darah', Ada Apa?
#Surabaya - Bukan saja karena pers yang kini menjadi sebuah industri, pers yang menjadi alat kepentingan pemilik atau pemodal
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id I SURABAYA - Puluhan pewarta mulai dari reporter, fotografer, kameramen, presenter, baik dari media cetak, online dan televisi, Selasa (3/5/2016), menggelar aksi di depan patung Suro dan Boyo depan Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Aksi teaterikal dan orasi damai, dalam waktu kurang dari satu jam itu, merupakan bagian dari perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia (HKPS), yang digelar tiap tanggal 3 Mei.
Teaterikal ditampilkan oleh Bahana Patria, fotografer Kompas, yang tampil sebagai sosok pers yang tergeletak penuh lumuran cairan merah.
Para pengguna yang melintas di depan patung Suro dan Boyo, serta antrian pengunjung Samsat keliling yang parkir di sebelah tempat aksi, tampak menikmati aksi teaterikal Bahana.
Sambil tergeletak dengan disirami cairan berwarna merah, Bahana juga beberapa kali mengeluarkan kalimat dan olah tubuh yang menunjukkan pers bebas dalam menjalankan tugasnya. Tapi ternyata masih banyak pers yang harus dikengkang oleh banyak ganjalan.
Bukan saja karena pers yang kini menjadi sebuah industri, pers yang menjadi alat kepentingan pemilik atau pemodal.
Kekuasaan pusat hingga daerah memberikan kontribusi atas pemasungan kebebasan pers. Pejabat anti-kritik dengan mudahnya bisa memindah pos wartawan, dengan ancaman tidak memberikan iklan ke perusahaan.
Aksi para pewarta yang menamakan diri Journalist Surabaya untuk Kebebasan (JaSuKe) itu, menyedot beberapa orang untuk mendekat. Anggota Polsekta Wonokromo pun ikut mengamankan dan menjaga agar masyarakat yang menonton tidak menghambat arus lalu lintas.
Koorlap JaSuKe, Totok J Soemarno, menyatakan kebebasan pers baru sebatas slogan semata, belum terwujud nyata, belum sepenuhnya ada.
"Masih banyak pihak beranggapan pewarta pembawa petaka. Perlu dipahami, penjaga demokrasi," kata Totok.
Wartawan senior berambut gondrong ini menambahkan, fungsi pers sebagai alat kontrol, sarana pendidikan, sarana hiburan harus benar-benar diwujudkan.
"Melalui aksi solidaritas damai hari ini juga digelar teatrikal oleh teman-teman yang kesemuanya mengenakan pakaian hitam. Hitam simbol matinya kebebasan pers, simbol pemasungan, pengekangan kebebasan pers," sambung Tor, sapaan Totok.
Bahkan pola-pola kasar, represif tidak luput menimpa awak media dalam menjalankan tugasnya.
Bukan cuma luka, namun ada dari mereka yang kehilangan nyawa, sehingga muncul tagar: #TidakAdaBeritaSehargaNyawa. Tak dipungkiri tagar ini sendiri bisa menjadi "pemasung" kebebasan pers.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-surabaya-aksi-jurnalis-di-depan-kbs_20160503_193123.jpg)