Berita Bangkalan Madura
Petani dan Dinas Pertanian Bangkalan Bersihkan Hama Keong, Caranya Sangat Konvensional
#Bangkalan - Pemerintah dan Petani bersama-sama membersihkan Hama Keong, tetapi lihat cara mereka ini. Tak lazim di jaman modern...
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id I BANGKALAN – Dinas Pertanian dan Peternakan serta petani bergotong royong memusnahkan hama keong. Ini dilakukan setelah lima hektar padi di Dusun Karang Anyar dan Genangkah, Desa Burneh, Kecamatan Burneh, Pulau Madura, Jawa Timur (Jatim) terserang hama itu.
Mereka bersinergi melakukan pembasmian dengan cara konvensional, yakni memungut satu per satu keong beserta telurnya.
"Sebelumnya telah meyerang lima hektare lahan padi namun sudah berangsur habis. Hama keong masih berpotensi menyerang 100 hektare lahan padi lainnya," ungkap Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dispertanak Bangkalan Agus Irianto, Sabtu (30/04/2016).
Ia menjelaskan, pemusnahan keong dengan cara konvensional terpaksa dipilih mengingat cara tersebut lebih aman dibandingkan dengan cara meyemprotkan pestisida.
"Dengan menyemprotkan pestisida sudah pasti keong akan mati. Namun itu berbahaya bagi petani karena cangkang-cangkang keong bisa saja melukai kaki petani. Jadi dipungut saja lebih aman," jelasnya.
Selain memungut keong dan telur, pembasmian keong juga dilakukan dengan cara menabur daun pepaya di tengah sawah dan menancapkan tacer dari bambu di setiap sudut sawah.
Langkah tersebut sudah terbukti bisa menarik keong-keong untuk makan daun pepaya dan melekatkan di batang tacer tersebut.
"Gejala awal serangan keong sebenarnya sudah nampak sebulan yang lalu. Namun para petani keliru mengantisipasinya. Seharusnya yang diambil terlebih dulu telurnya, bukan keongnya," ujarnya.
Akibat serangan keong itu, imbuhnya, lahan-lahan terdampak dipastikan akan menunda masa tanam kedua. Apalagi, sejumlah sawah terdampak keong masih tergenang air.
"Sawah dengan dataran paling rendah sudah pasti menjadi lahan subur bagi perkembangbiakan keong. Satu kelompok telur bisa menetaskan 200 anak keong dalam seminggu," katanya.
Ketua Kelompok Tani Tunas Harapan Burneh, Fathurrosi mengatakan, serangan hama keong melanda sawah-sawah warga semenjak satu bulan yang lalu.
"Tiba-tiba keong langsung banyak. Kami panik dan tidak terpikir mengambil telur-telurnya," ungkap pria dengan tiga anak itu.
Ia mengaku, serangan hama keong selalu terjadi dalam setiap tahun di masa tanam padi kedua. Hingga saat ini, dirinya masih belum mengetahui langkah pasti yang akan dilakukan agar keong-keong tidak kembali.
"Kalau disemprot pestisida pasti mati, tapi cangkang malah melukai kaki. Tiap tahun terus seperti ini. (Keong) untuk pakan bebek sudah tidak bisa karena bebek akan mati," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-surabaya-warga-bersihkan-hama-keong_20160430_180317.jpg)