Breaking News:

Berita Surabaya

Supandi Produksi Rumah Kertas Sejak Tahun 80-an

Begitu juga membakar mobil kertas, uang-uangan kertas, semuanya untuk kebutuhan leluhur di alamnya," jelas pria keturunan Jawa ini kepada Surya (TRIBU

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Yoni
surya/Pipit Maulidiya
Rumah Kertas yang siap untuk dijual 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tradisi Ceng Beng atau penghormatan terhadap leluhur masyarakat Tionghoa boleh saja berlalu.
Namun, tak ada salahnya jika di luar perayaan itu ingin mengirim hadiah kepada leluhur yang sudah meninggal.

Supandi (51), Pengerajin Rumah Kertas Surabaya membenarkan. Terbukti meski tidak sedang Ceng Beng masih ada pesanan rumah kertas untuk dibakar dan dipersembahkan kepada leluhur.

Supandi menerima pesanan rumah kertas dengan berbagai bentuk, yang memiliki ukuran setinggi orang dewasa.

Mulai dari rumah bergaya cungkok atau kuno (seperti kelenteng) hingga berbagai model vila. Salah satunya vila gaya Bali.

Tak hanya rumah, Supandi juga mengisi rumah kertas dengan perabotan, layaknya rumah pada umumnya. Memiliki halaman dan garasi beserta mobil, bahkan sebuah pesawat terbang, hingga remot tv sekalipun.

"Menurut tradisi Tionghoa, membakar rumah kertas sama dengan mengirimkan leluhur sebuah rumah untuk ditinggali di alam arwah. Begitu juga membakar mobil kertas, uang-uangan kertas, semuanya untuk kebutuhan leluhur di alamnya," jelas pria keturunan Jawa ini kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Bersama 11 karyawannya, Supandi menjalankan produksi rumah kertas yang semakin sedikit keberadaannya di Surabaya. Tradisi Tionghoa membakar harta benda yang terbuat dari kertas, membawanya menuai rizki.

"Meski ujung-ujungnya dibakar, kami harus membutnya sesuai dengan permintaan keluarga yang pesan. Misalnya untuk leluhur yang suka buah-buahan atau kamarnya terdapat lukisan, kita bikin sedetail mungkin. Karena ini untuk dikirimkan ke leluhur yang hidup di sana. Meski terbuat dari kertas, kami juga membuat sertifikat untuk setiap rumah kertas yang dipesan," terangnya beberapa waktu lalu.

Usaha yang ia jalankan sejak tahun 80an ini, berkat ajaran dari seorang Tionghoa, majikan Supandi saat ia menjadi tenaga pembatu membuat rumah kertas.

Kini pemilik rumah Jalan Rangkah gang II, Surabaya ini masih mempertahankan keahliannya membuat barang berharga dari kertas. Meski zaman sudah banyak berubah.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved