Citizen Reporter
Menyibak Selubung Tafsir Peran Asrama Inggrisan Banyuwangi
asrama Inggrisan menjadi penanda bangunan yang konon masih memiliki sejarah dengan keberadaan bangsa Britanika di Banyuwangi... ini buktinya...
Reportase : Rintahani Johan Pradana
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang
fb.com/joe pradana
SEBUAH rumah panggung ditopang pilar-pilar tebal dengan empat sisi, menjadi ujung jejak sepatu lars sedari pintu gapura bertuliskan Asrama Inggrisan.
“Gedung tua ini merupakan asrama para perwira di Banyuwangi,” ucap Mukti, yang kali ini menjadi rekan petualangan saya. Panorama yang tertangkap mata memanggil memori pada seucap kalimat dari dosen saya, ‘tidak mudah merawat bangunan tua.'
Kompleks asrama yang dihuni garda depan pelindung negara ini dulunya sangat memprihatinkan.
“Kondisinya kini sudah lebih baik, setidaknya ada perhatian dari para penghuni Asrama Inggrisan,” imbuh Mukti. Melihat kisah masa lalunya, ada rentetan panjang yang memberi tafsir beragam pada Asrama Inggrisan.
Banyuwangi terasa cukup akrab dengan bangsa Britania. Selain adanya wilayah administrasi bernama Glenmore, yang juga ada di Inggris, tafsir awal Asrama Inggrisan ini juga menjadi salah satu faktanya.
Gedung ini dulunya merupakan lodge atau tempat penginapan yang digunakan oleh para saudagar Inggris di Banyuwangi.
Beragam tafsir yang bertebaran seputar bangunan yang ada di wilayah Kepatihan ini terkadang cukup membingungkan. Ada yang mengatakan bahwa saksi zaman yang masih kokoh berdiri tersebut merupakan bangunan yang didirikan sejak paro abad ke 17.
Tak sedikit juga tulisan yang mengungkapkan bahwa Asrama Ingrisan merupakan gedung yang dibangun oleh penguasa bumi putera di Banyuwangi.
Ragam tafsir yang tak tentu arahnya ini jelas menghadirkan rupa-rupa tulisan tentang Asrama Inggrisan. Mukti, justru memberikan titik pijak yang cukup bijak dalam menapak jejak Asrama Inggrisan. Sebuah plakat besi yang menutup lantai menjadi bukti identitas yang pernah tersemat pada bangunan tua di tengah kota ini.
Mengisolir Jawa
Tertulis, Burn Brothers Rotunda Works Blackfriars Road London S.E. yang tidak lain merupakan badan usaha milik Inggris. Pada masanya, perusahaan tersebut memproduksi kabel telegraph yang tahan air.
Inggris pernah menggunakan bangunan tersebut sebagai pos kendali telegraph bawah laut yang digunakan untuk mengirim sandi ke wilayah Asia dan Australia. Hingga di masa pendudukan Jepang, Asrama Inggrisan menjadi kamp bagi Kempetai di ujung timur pulau Jawa.
Tak ada sisa yang bisa ditelusuri dari rangkaian kabel telegraph. “Jepang telah menghancurkan semuanya, dan membuat Jawa menjadi wilayah kuasa yang sengaja di isolir,” duga Mukti.
Jejak-jejak sepatu lars yang menjadi penuntun kami, telah menarik benang tafsir lainnya bahwa Asrama Inggrisan telah lama menjadi kamp bagi para perwira, tidak hanya setelah republik berdiri.
Di balik sisi lain yang dipeluk oleh ragam tafsir, entah didirikan oleh siapa dan dimaksudkan untuk apa, Asrama Inggrisan tentu layak dianugrahi tafsir sebagai bangunan cagar budaya yang patut dilindungi. Saat Banyuwangi bertekad untuk jenggirat tangi, tentu ada jejak sejarah yang laik dihidupkan kembali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rumah-inggrisan_20160420_163338.jpg)