Citizen Reporter
Mensyukuri 80 Tahun Tedja Suminar, Teruslah Bersinar untuk Indonesia
berada di titik 80 tahun, hanya kesyukuran yang dirasakan seniman Tedja Suminar... banyak yang berharap karyanya terus bersinar untuk Indonesia...
Reportase : Dhahana Adi Pungkas
Pegiat literasi/penulis buku Surabaya Punya Cerita
dhahana.adi@gmail.com
Gak nyongko, isok sampek sakmene umurku...
DEMIKIAN ungkap Tedja Suminar, di Sabtu, 16 April 2016 lalu di kediamannya. Anak ke-10 yang lahir pada 15 April 1936 dari pasangan Kiem Liong, pedagang palawija asal Fujian, Tiongkok dan Hoen Nio, ini bernama asli The Tiong Tien.
Berbeda dengan sang ayah, hanya pelajaran kesenian yang disukai The kecil. Didorong rasa cinta Indonesia, ia mengganti namanya menjadi Tedja Suminar dan mendaftarkan diri ke Akademi Kesenian Surakarta pada 1957 sebagai mahasiswa angkatan pertama.
Di kampus kesenian itu kehidupan Tedja Suminar menjadi lebih bergairah dan meyakini seni rupa sebagai pilihan hidupnya. Saat berkuliah, Tedja makin bermetamorfosa sebagai peranakan Tionghoa yang njawani.
Ia makin gandrung wayang kulit dan tak jarang menghabiskan waktu untuk membaca kisah Ramayana dan sastra Jawa. Kerinduannya akan sosok kepahlawanan ayahnya sempat dilampiaskan dengan membaca berbendel-bendel cerita silat Kho Ping Hoo.
Tedja adalah sosok pelukis generasi tua Surabaya yang tetap konsisten dan bersahaja hingga kini. Baginya, Surabaya dan Bali adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering digali.
Gedung tua yang masih tersisa di Surabaya, menjadi objek yang menarik untuk diolah menjadi karya seni sketsa. Begitu pula halnya Bali dengan kultur dan nuansa etnik atas tradisinya, tak pernah habis dieksplorasi untuk karya seni yang bercita rasa khas.
Sejumlah karya telah tercipta dari seniman yang tak pernah lepas dari pet hitam dan rokok kreteknya ini. Tengok saja relief stadion Gelora 10 November, adalah hasil desain gambar sketsanya yang langsung diminta oleh Soekotjo, wali kota Surabaya kala itu, dalam menyambut PON VII tahun 1969.
Untuk para pecinta film Indonesia, nama Tedja tercatat sebagai penata artistik film Suci Sang Primadona karya perdana (alm) Arifin C Noer di tahun 1977.
Hampir setengah abad sudah Tedja Suminar membina kehidupan rumah tangga dengan Anastasia Moentiana hingga ajal menjemput sang istri pada 30 Oktober 2007. Tak ada kehilangan yang lebih besar kecuali kehilangan garwa, separo jiwanya.
Sempat down setelah ditinggal istri tercinta, Tedja Suminar akhirnya kembali mendapat kekuatan untuk bangkit lagi berkat dorongan kedua putrinya, Theresia Swandayani (penari) dan Natalini Widhiasi (pelukis), serta sejumlah cucu.
Di usia yang semakin senja, Tedja Suminar tak pernah bersedih meratapi hidup, ia terus menebar inspirasi dan tak henti-hentinya menjalin relasi dengan beberapa seniman muda yang sanggup membuatnya terus bersinar dan ada untuk Surabaya dan Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tedja-suminar_20160417_142437.jpg)