Citizen Reporter
Belajar Gratis di Rumah Bibit Wajak, Alternatif Pendidikan untuk Daerah Pelosok Malang
beruntung masih ada mahasiswa yang peduli dengan pendidikan anak-anak di pelosok Malang lewat Rumah Bibit ini...
Reportase : Agung Prasetiyo
Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang
JIKA sejak 2009 kita mengenal Indonesia Mengajar, sebenarnya di Wajak, Kabupaten Malang juga memiliki aktivitas serupa. Namanya Rumah Bibit yang lahir sejak 2 tahun lalu. Rumah Bibit ini diinisiasi Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) FITK UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, pada Maret 2014.
Apa maksud dari Rumah Bibit? Bibit dalam kata Rumah Bibit adalah akronim belajar itu bebas indah tepat sasaran. Dengan kata lain, rumah tersebut dibuat sebagai sarana menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan inovatif.
Program berbasis pengabdian masyarakat ini juga berfungsi memfasilitasi anak-anak di daerah tertinggal maupun mereka yang putus sekolah agar bisa mengenyam pendidikan yang layak. Tentunya kelak agar terwujudnya generasi yang cerdas, berakhlak baik dan mampu bersaing positif di era globalisasi.
Di sisi lain, Rumah Bibit juga sebagai sarana aktualisasi para mahasiswa untuk mengasah kecerdasan interpersonal dalam memahami kondisi psikologi siswa SD maupun MI. Sehingga kelak ketika menjadi guru, mereka sudah terbiasa menciptakan suasana pembelajaran bermakna, indah dan tepat sasaran dalam mengaplikasikan ilmu dan media pembelajaran.
Untuk memujudkan harapan tersebut, banyak kegiatan yang telah dirancang dan dilakukan. Mulai mengajari siswa binaan belajar mata pelajaran sekolah sampai mengajari bernyanyi. Sementara untuk membiasakan para siswa binaan mau membaca, di tempat ini sudah disiiapkan perpustaan agar para siswa tertarik membaca referensi yang dibutuhkan.
Sampai sekarang ini, tercatat ada 52 siswa yang dibina oleh para mahasiswa PGMI. Setiap minggunya akan ada sekitar 10 mahasiswa PGMI yang mengajar di Rumah Bibit, yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu.
Menariknya, kegiatan belajar mengajarnya berbasis tematik. Artinya ada silabus tematik bulanan. Di minggu pertama misalnya ada kelas membaca, kelas menggambar, kelas bernyanyi dan kelas menghitung. Selanjutnya minggu kedua dan ketiga, para siswa binaan masuk di kelasnya masing-masing sesuai kelas saat mereka sekolah reguler.
Misalnya jika di sekolah dia kelas 4, maka saat belajar di Rumah Bibit juga masuk di kelas 4. Hal ini dilakukan agar mata pelajaran di sekolah bisa ditelaah lagi. Yang lebih penting, siswa bisa memahami apa yang telah dipelajarinya. Sementara Minggu keempat diisi dengan outbond untuk mengajarkan pentingnya arti kebersamaan dan belajar itu menyenangkan.
Semoga Rumah Bibit ini semakin mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari mahasiswa dari kampus lain yang ingin bergabung dan berdedikasi serta para pejabat pemerintah di daerah tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rumah-bibit_20160416_173522.jpg)