Citizen Reporter

Membius Anak-anak lewat Dongeng

dongeng yang bagus mampu membius anak-anak dan membuatnya ketagihan membaca dan mendengarkan dongeng serta membangunkan imajinasi mereka...

Membius Anak-anak lewat Dongeng
flickr
ilustrasi 

Reportase : Siti Nur Kholifah
Mahasiswa Universitas Negeri Malang
sitinurkholifah889@gmail.com

DONGENG, merupakan cerita yang digemari anak-anak. Bahkan, tidak hanya anak-anak yang menggemari dongeng, hampir semua kalangan menyukainya. Namun, seiring waktu dongeng mulai tersisihkan.

Untuk menghidupkan lagi dongeng, Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang (UM) mengadakan workshop penulisan kreatif karya sastra dengan pemateri Ugi Agustono (penulis novel dan dongeng) di aula Perpustakaan Pusat UM, paro Maret 2016 silam, mengusung tema Manifestasi Dongeng Anak Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal.

“Semoga dengan workshop penulisan karya sastra ini, peserta yang mengikutinya terutama mahasiswa jurusan sastra dapat menghasilkan dongeng-dongeng yang bisa mendunia,” ujar Dr Martutik, MPd, Sekretaris Jurusan Sastra Indonesia UM.

“Indonesia bekerjasama dengan UNICEF ingin mengembalikan lagi dongeng-dongeng yang hampir mati ini,” imbuh pamateri tunggal, Ugi Agustono. Oleh karena itu, dari acara ini diharapkan mampu menghidupkan dan melahirkan penulis dongeng yang dapat diperhitungkan dalam kancah negeri hingga dunia.

Menurut Ugi Agustono, dongeng yang baik untuk anak adalah dongeng yang mampu membangun imajinasi anak menjadi luar biasa, tidak membodohkan, serta membuat anak menjadi ketagihan untuk membaca atau mendengarkan dongeng.

Ugi juga memaparkan tip tiga jurus menulis dongeng dengan mudah dan baik, yakni:

1. Membuat sinopsis dongeng.

Sinopsis merupakan ringkasan dari cerita. Tujuan dari membuat sinopsis dongeng untuk menceritakan secara ringkas cerita yang akan diusung dalam dongeng.

2. Membuat draf atau kerangka dongeng.

Kerangka dongeng sangat membantu penulis dongeng pemula. Dalam kerangka tersebut berisi rumusan alur yang akan dikembangkan dalam dongeng.

3. Mengembangkan kerangka dongeng menjadi dongeng yang utuh.

Mengembangkan kerangka dongeng merupakan proses penulisan dongeng secara utuh. Dalam hal ini, penulis dituntut untuk membangun imajinasi anak yang luar biasa. Konflik-konflik yang ada dalam dongeng harus menjadikan anak menjadi ketagihan untuk membaca atau mendengarkan dongeng. Selain itu, porsi antara prolog dan dialog haruslah seimbang.

Acara yang dimulai sejak pukul 08.30 hingga 15.00 WIB dalam dua hari tersebut menghasilkan hampir 100 karya dongeng yang mengusung tema kearifan lokal. Empat di antaranya menjadi dongeng terbaik dan dikirim ke UNESCO dan sisanya akan dibukukan.

 


 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved