Breaking News:

Citizen Reporter

Sarinah Saksi Revolusi dan Memori Kota Malang

di balik nama yang sederhana, Sarinah senantiasa menjadi saksi kisah luar biasa nan menyejarah negeri ini.. pun Sarinah menjadi saksi Kota Malang...

Editor: Tri Hatma Ningsih
rintahani johan pradana/citizen
Monumen KNIP Sarinah Malang 

Reportase : Rintahani Johan Pradana
Mahasiswa Pascasarjana Unversitas Negeri Malang
fb.com/joe pradana

KOTA Malang ditetapkan sebagai Kota Praja pada 1914. Dinamika sejarah menyelimuti kota yang sudah berusia lebih dari satu abad ini. Pembangunan terus digalakkan dan beragam wajah Kota Malang senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Meski tak henti terus mempercantik diri, kota yang juga berjuluk Parijs van Oost-Java karena iklim sejuk dan panorama alamnya ini ternyata tak lupa akan sejarahnya. Di antara runtuh dan berdirinya beberapa sudut bangunan penting, terdapat sebuah penjaga memori peristiwa besar yang pernah tersaji dalam lembar sejarah Kota Malang.

Perjalanan panjang turut mengawal tempat yang kini bernama Sarinah. Mulai dari tempat hiburan bernama Societeit Concordia pada masa Hindia Belanda, hingga menjadi ruang terselenggaranya sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Pada masa di mana pernah terselenggara sidang tersebut, Kota Malang yang kala itu masih sangat sejuk dengan hawa dinginnya mendadak menjadi medan perdebatan yang panas.

 Ketegangan antara dua pihak yang terlibat baku tembak dalam perang kemerdekaan antara 1945 hingga akhir 1949, menular pada proses mengawal perjuangan diplomasi. Lembar demi lembar perjanjian ditandatangani kedua pihak, Indonesia dan Belanda, agar tercapai kesepakatan mengenai status bekas negara jajahan yang ingin merdeka.

Ketegangan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, tak jarang melahirkan perdebatan di tubuh republik. Pro kontra terhadap strategi perjuangan menuju kemerdekaan menjadi warna yang menghiasi proses revolusi. Mereka yang kecewa, tak segan mengangkat senjata untuk memilih jalan juang yang terkadang menyimpang.

Komite Nasional Indonesia Pusat yang kelak dikemudian hari menjadi cikal bakal lahirnya Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, memutuskan menyelenggarakan musyawarah untuk mengawal revolusi. 25 Februari hingga 5 Maret 1947 puncak ketegangan itu diputuskan.

Pihak yang kontra dengan keputusan Soekarno untuk menempuh perjuangan diplomasi melalui perjanjian Linggarjati dan keputusannya tentang penambahan jumlah anggota KNIP yang dianggap menyalahi konstitusi, tiba-tiba terdiam lewat pidato yang dikumandangkan Hatta.

‘Silakan cari presiden dan wakil presiden lain bila dekrit tidak diterima’ kurang lebih begitulah kata Hatta. Meski dekrit akhirnya diterima dengan tepuk tangan riuh terhadap sikap Hatta, namun tetap saja pihak oposisi seakan segan memberi suara.

Dipilih Sarinah

Kini, 69 tahun berlalu, hanya monumen sederhana menjadi penanda. “Kalau ada monumen beserta penjelasan seperti ini kan jadi bisa memberi informasi,” celetuk warga yang kebetulan sedang menikmati keramaian alun-alun Malang.

Gedung tersebut pernah dengan sengaja dibumihanguskan sewaktu agresi militer Belanda, agar tak dimanfaatkan pihak lawan. Hingga akhirnya diputuskan didirikan pusat perbelanjaan guna mengakomodir aktivitas perekonomian, khususnya di Kota Malang, yang sedang dalam masa bangkit pascaperang kemerdekaan. Nama Sarinah dipilih. Perempuan sederhana yang banyak menginspirasi Soekarno.

Banyak peran yang pernah menghiasi tempat ini. Seperti Sarinah, yang menurut Soekarno hanya perempuan biasa dengan peran luar biasa, gedung Sarinah di Kota Malang juga menyimpan cerita luar biasa dalam mengawal proses revolusi. Di saat Malang menghadirkan rupa-rupa wajah dalam menghadapi modernisasi, keberadaan bangunan bersejarah yang telah runtuh maupun masih berdiri menjadi modal lain dalam mengawal revolusi dan menjaga memori.

Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved