Berita Kampus Bangkalan Madura
Indonesia Disebut Gagal Menjadi Paru-paru Dunia, Ini Alasannya
"Kita gagal menjadi paru-paru dunia. Sementara negara lain menganggap kita sebagai penyumbang iklim bagus," ungkap Sa'ad Asjari.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Parmin
SURYA.co.id | BANGKALAN MADURA - Hamparan hutan tropis di sejumlah wilayah di Indonesia mampu menstabilkan iklim dunia dengan cara menyerap karbondioksida. Atas perannya itu, Indonesia disebut layak menjadi paru-paru dunia.
Namun, kerapnya kebakaran hutan dan banjir di Indonesia dinilai Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bangkalan, Sa'ad Asjari, merupakan kegagalan negeri ini menjadi paru-paru dunia.
"Kita gagal menjadi paru-paru dunia. Sementara negara lain menganggap kita sebagai penyumbang iklim bagus," ungkap Sa'ad Asjari di hadapan para perwakilan sekolah dalam persiapan menyongsong penilaian Adiwiyata di SMAN 3 Bangkalan, Selasa (29/3/2016).
Ia menjelaskan, pelaksanaan Adiwiyata setiap tahun harus dijadikan momen mencetak generasi, dalam hal ini siswa, yang peduli terhadap lingkungan.
"Terpenting niat menanamkan filosofi Adiwiyata, menyikapi lingkungan. Saya tidak peduli dengan sertifikat atau plakat (Adiwiyata) karena hanya penanda saja," jelasnya.
Menurutnya, menanamkan prilaku siswa untuk peduli lingkungan merupakan poin penting agar kelak mereka mampu mengimplementasikan jiwa Adiwiyatama di tengah-tengah masyarakat.
"Lingkungan kita sudah parah, eksploitasi lahan di mana-mana. Ketika pasokan kayu dari Kalimantan menurun, penebangan pohon terjadi secara sporadis untuk bangun rumah," ujarnya.
Untuk mengurangi penebangan pohon secara liar, lanjut Sa'ad Asjari, pihaknya tengah mengajukan ke DPRD Bangkalan untuk pembuatan peraturan daerah terkait tata tanam dan perlindungan pohon.
Rencana pembuatan peraturan daerah itu didasarkan atas hasil diskusi dengan sejumlah instansi pemerintahan di Jawa Timur. Seperti Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Sampang.
"Lahan-lahan di Situbondo memang hijau namun hanya tanaman perdu, bukan tumbuhan penguat yang bisa menahan banjir. Begitu juga di Sampang. Syukurlah di Bangkalan tidak demikian," paparnya.
Dalam kesempatan itu, SMAN 3 Bangkalan diproyeksikan sebagai satu-satunya lembaga pendidikan yang diikutkan dalam penilaian Adiwiyata Mandiri. Penilaian akan dilakukan di akhir April 2016.
"Status (Adiwiyata) Mandiri itu sudah luar biasa, selevel Adipura Kencana. Kita gagal di Adipura tapi harus menang di Adiwiyata," pungkasnya.
Selain SMAN 3 Bangkalan, tercatat 38 lembaga pendidikan di Jawa Timur yang bersertifikat Adiwiyata Nasional. Termasuk 2 sekolah di Sumenep dan 1 sekolah di Pamekasan.
Kepala SMAN 3 Bangkalan Siti Maria mengemukakan, semua guru dan murid telah berkomitmen menjaga lingkungan sekolah demi Adiwiyata Mandiri.
"Kami harus terbiasa dengan bersih lingkungan sekolah kendati tidak ada penilaian," singkatnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-bangkalan-madura-jatim-sekolah-adiwiyata_20160329_185734.jpg)