Berita Kampus Surabaya

Alat Deteksi Halal-Haram Ciptaan Dosen ITS ini Tunggu Hak Paten, Ini Penjelasannya

"Alat deteksi gelatin yang saya buat masih mengajukan hak paten dan menemukan standar dari gelatin sapi dan babi."

Alat Deteksi Halal-Haram Ciptaan Dosen ITS ini Tunggu Hak Paten, Ini Penjelasannya
surya/habibur rohman
Dua mahasiswi memperlihatkan alat deteksi gelatin ciptaan dosen ITS Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi, Kamis (24/3/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sertifikat halal tidak hanya menyangkut ada tidaknya unsur babi, melainkan juga bagaimana tata cara proses pembuatan dan pengangkutannya.

Guna memperoleh sertifikat halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), butuh waktu agak lama dan proses panjang.

“Untuk itu, Alat deteksi gelatin yang saya buat masih mengajukan hak paten dan menemukan standar dari gelatin sapi dan babi. Sehingga bisa dipercaya masyarakat,” jelas Ketua ITS Halal Center sebagai cikal bakal berdirinya Pusat Kajian Halal ITS, Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi.

Ketua LPPM ITS, Prof Dr Adi Soeprijanto mengatakan, dibentuknya pusat kajian halal di ITS untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam memberikan perlindungan terhadap produk-produk halal yang disyariatkan dalam agama Islam.

“Dalam UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, Pasal 12 disebutkan bahwa pemerintah atau masyarakat diperbolehkan untuk membentuk lembaga pemeriksa halal (LPH). Nah, ITS berinisiatif untuk membentuk itu dalam wadah pusat kajian halal,” jelasnya.

Sepengetahuan Adi, di Jawa Timur baru ada dua perguruan tinggi yang berinisiatif untuk membentuk LPH, masing-masing di Universitas Brawijaya Malang dan ITS ini.
“LPH di ITS dibentuk sebagai pusat kajian, sehingga tugasnya tidak hanya melakukan pemeriksaan dan atau pengujian kehalalan produk semata, tapi lebih luas dari itu melakukan penelitian-penelitian untuk mencari bahan alternatif sebagai pengganti bahan yang haram, baik untuk kebutuhan obat maupun makanan,” jelasnya.

Pusat kajian ini tidak hanya para pakar dan dosen di bidang kimia analitik, tapi juga terlibat beberapa dosen dari berbagai disiplin ilmu termasuk yang membidangi transportasi pengangkutan barang atau supply chain management.

“Kami sedang melakukan penelitian untuk membuat kapsul dari bahan yang lebih halal, yakni rumput laut dan tumbuhan lidah buaya,” ungkapnya.

Menurutnya, alternatif pengganti ini menjadi penting di tengah kekhawatiran publik terhadap halal tidaknya apa yang mereka konsumsi.

“Indonesia dengan penduduk muslim terbesar punya pasar yang luar biasa untuk menyiapkan bahan pengganti itu, sehingga wajib bagi ITS memberikan kontribusi terhadap kebutuhan umat,” katanya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved