Selasa, 14 April 2026

Berita Sumenep Madura

Cabe Rawit di Sumenep, Madura Tembus Rp 30.000 Per Kilogram, Ini Pemicunya

Sedangkan bawang putih, pekan lalu seharga Rp27.000 per kg, pekan ini mencapai Rp 32.000 perkilogramnya.

Penulis: Moh Rivai | Editor: Parmin
surya/Iksan Fauzi
foto ilustrasi petani panen cabe. 

SURYA.co.id | SUMENEP, MADURA - Cabe rawet di Sumenep kembali melambung. Sebelumnya, cabe rawet di kalangan petani hanya Rp 20.000 per kilogramnya, kini mencapai Rp 30.000 ribu per kilogram. Kenaikan harga itu diperkirakan berlanjut hingga akhir Maret ini.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumenep, Madura Syaiful Bahri mengatakan beberapan pekan terakhir ada lima bahan pokok yang naik tajam.
Masing-masing varian sembilan bahan pokok terendah kenaikannya rata-rata Rp 5.000 per kilogramnya. Lima varian bahan pokok tersebut yakni bawang merah, bawang putih, cabe besar, cabe keriting, dan cabe rawit.

"Sebagian harga-harga memang menunjukkan ada kenaikan, namun Kenaikan harga paling tajam terjadi pada komoditas bawang dan cabai, yakni kisaran Rp 5.000 per kilogramnya," papar Syaiful, Kamis (17/3/2016).

Sedang komuditas bawang merah yang sebelumnya di pasaran Rp 33.000 kini naik menjadi Rp 38.000 per kg, pada minggu lalu harganya Rp33.000 per kg.

Sedangkan bawang putih, pekan lalu seharga Rp27.000 per kg, pekan ini mencapai Rp 32.000 perkilogramnya.

“Catatan kami, kenaikan yang sangat signifikan yakni pada cabe rawit. Sebelumnya hanya Rp 22.000 kini melonjak hingga Rp 30 ribu perkilogramnya,"" beber Syaiful.

Menurut dia penyebabnya karena minimnya stok di masyarakat atau petani. Banyak tanaman cabe mati atau gagal panen karena cuaca tidak menentu.

Termasuk curah hujan yang terus menerus banyak mengakibatkan tanaman cabe membusuk sehingga gagal panen.

"Karena banyak tanaman bawan dan cabe yang rusak, maka stok menipis, sedang kebutuhan tetap hingga akhirnya harga melambung," imbuhnya.

Ahmad Wakil, petani bawang dan cabe asal Desa Mandala, Kecamatan Rubaru Sumenep, mengakui jika tanaman cabenya sejak akhir Februari lalu hingga Maret ini banyak yang rusak karena curah hujan yang terus menerus mengguyur, hingga akhirnya pohonnya layu dan buah cabenya membusuk.

" Jadi kalaupun harga cabe rawit naik sampai Rp 30 ribu, kami tetap rugi karena hanya sekitar 35 persennya tanaman cabe kami yang bisa dipanen," ujar Ahmad Wakil.

Dia berharap pemerintah memberikan solusi agar tanaman cabenya yang rentan rusak karena hujan bisa teratasi dengan teknologi pertanian.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved