Berita Surabaya
Pengamen dan Pengemis Masih Marak di Surabaya, Ini Buktinya
"Aduh, tanganku penuh sambal, lupa cuci tangan, celanaku malah kotor. Gak ada mas," ujar Santoso.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
SURYA.co. id | SURABAYA - Saat asyik menikmati makan malam di sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) Taman Bungkul, Kamis (10/3/2016) malam, Santoso didatangi seorang pengamen.
Dengan membawa gitar kecil, pengamen yang diperkirakan masih remaja itu, terlihat memainkan dan menyanyikan lagu seadanya.
Santoso yang asyik makan nasi bebek goreng, langsung pakai tangan, langsung sibuk mengalihkan tangan kirinya untuk mencari uang koin di saku kiri celananya. Tapi ternyata tidak ada.
Otomatis, warga Joyoboyo ini menggunakan tangan kanannya untuk mencari di kantong kanannya.
"Aduh, tanganku penuh sambal, lupa cuci tangan, celanaku malah kotor. Gak ada mas," ujar Santoso kepada pengamen sambil mengibaskan tangannya.
Apa yang dialami Santoso, banyak dialami warga yang sedang asyik makan di jajaran Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tersebar di beberapa titik.
Menurut Santoso, kehadiran pengamen ini seringkali mengganggu. "Ya seperti ini. Saya harus kotor karena inginnya ngasih. Akhirnya makan jadi tidak nyaman," komentar Santoso.
Selain Santoso, pengalaman terganggu karena pengamen juga dialami Atik Hadi, warga Ketintang Baru. Karyawati sebuah perusahaan di kawasan Rungkut ini mengaku, setiap sore, sepulang kerja, sering membuka pintu rumahnya lebar-lebar agar udara masuk.
"Tapi baru beberapa menit, datang pengamen. Jreng-jreng..... Kalau dibiarkan, nyanyinya dikeraskan," cerita Atik.
Tak hanya sekali, beberapa kali datang hingga malam. Selain pengamen, di daerah Ketintang itu juga sering ada pengemis. Pengemisnya, mayoritas perempuan dengan usia diatas 30 tahun dan berkerudung.
"Itu datang kalau lihat pintu terbuka. Jadi tidak nyaman kan," tambah Atik.
Tak hanya itu, di beberapa perempatan dengan traffic light, juga masih ditemui pengamen dan pengemis. Mereka beraksi saat lampu traffic light menyala merah.
"Kalau pengamen, tidak serius menyanyinya. Hanya menyanyi sambil tepuk-tepuk tangan. Kalau tak dikasih atau lama memberi, mereka nempel ke kaca mobil sambil meminta," cerita Amelia, yang menemukan pengamen tanpa alat musik di traffic light perempatan Jl Raya Depak - Jl Raya Dupak.
Kehadiran para pengemis dan pengamen di kota Surabaya ini masih disayangkan. Mengingat usaha Pemkot Surabaya dalam melakukan penertiban kemudian memberdayakan mereka ke kegiatan positif dan menghasilkan uang secara halal serta nyaman sudah dilakukan.
Secara keindahan juga kurang, mengingat mereka biasanya tampil seadanya dan tidak berniat mengamen untuk menghibur, tapi lebih mengamen untuk minta uang.
"Sama dengan mengemis, karena ujung-ujungnya maksa minta uang," komentar Amel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/pengamen-kediri_20160121_182444.jpg)