Senin, 20 April 2026

Berita Sidoarjo

Ini Penjelasan Lapindo Terkait Dugaan Kebocoran Pipa Gas di Rumah Warga

#Sidoarjo - PT Lapindo Brantas Inc. (LBI) mengakui adanya kebocoran pipa yang terjadi di Desa Kedungbanteng, Tanggulangin, Sidoarjo

Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id/Irwan Syairwan
Polisi dan Petugas Lapindo Brantas Inc sedang memeriksa letupan gas liar yang diduga berasal dari kebocoran pipa gas 

SURYA.co.id I SIDOARJO - PT Lapindo Brantas Inc. (LBI) mengakui adanya kebocoran pipa yang terjadi di Desa Kedungbanteng, Tanggulangin, Sidoarjo, Jumat (11/3/2016).

President Public Relation LBI, Hesti Arniwulan, mengatakan indikasi kebocoran tersebut diketahui setelah mematikan aliran gas bumi dari keran utama di TA 3 Kalidawir.

"Setelah keran dimatikan gelembung letupan gas berhenti. Ini artinya memang ada yang bocor," kata Hesti, saat menggelar jumpa pers di kantor LBI di Perumahan KNV.

Investigasi lebih lanjut akan dikerjakan untuk mengetahui penyebab kebocoran. Saat ini, pihaknyabtelah mematikan aliran gas sampai perbaikan sudah dilakukan. "Sekarang lokasinya diberi garis polisi. Kami menunggu petunjuk dari kepolisian," ujarnya.

Kendati demikian, untuk penyebab keluarnya api, pihaknya masih belum pasti. Dijelaskan berat jenis gas yang dihasilkan LBI lebih ringan dari udara.

Gas tersebut akan langsung memuai ketika terlepas ke udara dan tak akan meninggalkan bau apalagi memicu terjadinya api.

Lain halnya dengan gas komersil seperti gas elpiji yang berat jenisnya lebih berat. Ketika gas elpiji keluar, gas tersebut akan jatuh ke tanah dan berkumpul.

"Kami enggan berspekulasi di sini. Untuk bagian ini kami serahkan ke kepolisian. Namun yang jelas, gas produksi kami akan langsung hilang ketika terlepas ke udara," paparnya.

Hesti membeberkan lokasi rumah Supriyono ternyata areal steril. Pihak LBI sudah menyewa lahan tersebut dan telah memberi tanda larangan mendirikan bangunan apapun.

Sejak 2009, LBI menyewa lahan itu untuk persiapan aktivitas eksplorasi TA 1. Kontrak sewa berakhir April 2016.
"Ada tiga bangunan yang ada di lahan steril itu," bebernya.

Hesti menyatakan ia baru mengetahui adanya tiga bangunan rumah semipermanen di areal tersebut. Usai kejadian ini, pihaknya berkoordinasi dengan pihak desa.

Perempuan berjilbab ini mengakui permasalahan tersebut cukup pelik. Jika dilarang mendirikan bangunan akan timbul stigma negatif bahwa LBI tidak peka terhadap warga sekitar.

Sementara adanya tempat tinggal di area itu cukup membahayakan.

"Kami tanam pipa diameter 6 inchi dengan kekuatan tekanan sampai 400 Pound Square Inch (PSI). Kami akan koordinasi lebih lanjut dengan pihak desa terkait area steril ini," ungkapnya.

Munculnya gelembung letupan gas membuat warga Desa Kedungbanteng semakin khawatir. Terutama dengan keinginan kuat LBI untuk segera mengeksplorasi sumur TA 1 yang diprediksi merupakan sumur terbesar berumur 20 tahun ini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved