Breaking News:

Berita Surabaya

Rawan Perpecahan, Anak Muda Perlu Revolusi Mental

#Surabaya - Inilah pandangan Komandan Resimen Taruna AAL, Ivan Yulivan terkait Revolusi Mental Generasi Muda

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id/Sulvi Sofiana
Komandan Resimen Taruna AAL, Ivan Yulivan dalam sela seminar nasional ‘Revolusi Mental Generasi Muda dalam Rangka Bela Negara untuk Menghadapi MEA’ di Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya, Minggu (6/3) 

SURYA.co.id I SURABAYA - Beberapa waktu yang lalu, Indonesia telah melakukan pemilihan pemimpin daerah terbanyak secara serentak. Sebanyak 265 kader daerah dipilih dengan beragam konflik di berbagai daerah.

Perubahan paling dasar yang bisa dilakukan yaitu revolusi mental generasi muda, khususnya mahasiswa.

"Untuk Era global ini tantangan Indonesia sangat besar, mulai dari sosial, politik hingga budaya," jelas Komandan Resimen Taruna AAL, Ivan Yulivan dalam sela seminar nasional ‘Revolusi Mental Generasi Muda dalam Rangka Bela Negara untuk Menghadapi MEA’ di Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya, Minggu (6/3/2016).

Terlebih, saat ini teknologi semakin berkembang bersamaan dengan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak hanya berdampak dari sisi ekonomi. Aspek ideologi, politik, budaya, dan sumber daya manusia (SDM) turut mengalir ke negara-negara tujuan.

“Pendidikan karakter, merupakan bentuk revolusi mental yang dibutuhkan agar bangsa Indonesia tidak menelan mentah-mentah segala bentuk informasi dan budaya asing yang masuk seiring dibukanya MEA. Misalnya melalui penanaman bela negara dan cinta Tanah Air,” ungkapnya .

Berdasarkan pengamatannya, generasi muda saat ini menelan bulat-bulat informasi dan budaya asing. Dan itu bisa mempengaruhi karakter generasi muda. Padahal Indonesia merupakan negara yang rentan akan perpecahan.

Seperti yang terlihat pada mudahnya perkelahian antarkampung muncul, perkelahian antarsuporter sepak bola, hingga yang mengandung unsur suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Ivan menjelaskan, munculnya gejala-gejala itu menunjukkan bangsa ini tengah sakit dan perlu direhabilitasi. “Darimana kita memperbaiki? Dari karakter dan budaya. Pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan perlu ditumbuhkan kembali,” jelasnya.

Namun, saat ini jam pelajaran tentang kewargenaraan serta pancasila di sekolah sangat minim. Padahal kebanyakan sekolah saat ini menyelenggarakan pendidikan dari pagi hingga sore hari.

Usai sekolah, anak-anak banyak yang menghabiskan waktu pergi ke mal dan tempat hiburan lainnya. “Kedewasaan berpikir anak-anak perlu didorong kembali,” tegasnya.

Meski demikian, kata Ivan, pekerjaan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Peran keluarga juga cukup membantu membentuk karakter generasi muda saat ini.

“Siapapun pemimpin negara ini ingin yang terbaik, tapi semua butuh proses, tidak semudah membalikan tangan,” tandasnya.

Rektor UWP Surabaya, Budi Endarto menyatakan, seminar nasional tersebut merupakan rangkaian lustrum ke VII UWP Surabaya. Sementara tahun ini UWP bertekat memperbanyak seminar hasil penelitian dan pengabdian dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kami akan terus berorientasi pada pengembangan pendidikan,” terangnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved