Breaking News:

Berita Surabaya

Perluasan TPA Benowo Tunggu Hasil Penlok oleh Pemprov Jatim, Ini Alasannya

"Saat ini masih di panlok. Kami masih tunggu. Karena luasan lahan yang diajukan untuk pembebasan lahan."

antara/aditya pradana putra
Ilustrasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemkot Surabaya akan memperluas lahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo di tahun 2016 ini. Saat ini, progresnya masih menunggu hasil tahap penetapan lokasi (penlok) oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.

Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Maria Theresia Ekawati Rahayu, mengakui bila perluasan lahan di TPA Benowo itu akan diperuntukkan sebagai buffer zone atau kawasan penyangga.

"Saat ini masih di panlok. Kami masih tunggu. Karena luasan lahan yang diajukan untuk pembebasan lahan, lebih dari satu hektar, memang harus dilakukan oleh pemerintah provinsi," jelas pejabat yang akrab disapa Yayuk itu.

Nantinya, setelah ada panlok dari Pemprov, akan dilanjutkan dengan melakukan pembebasan lahan.

Lahan yang diajukan untuk pembebasan perluasan lahan TPA itu, adalah sebesar 17 hektar.

Sehingga ketika sewaktu waktu ada kejadian yang tidak diinginkan di TPA Benowo maka tidak akan langsung berdampak pada warga yang ada di sekitar TPA Benowo.

Sementara itu, Kabag Pelaksanaan Pembangunan Biro Administrasi Pembangunan Pemerintah Provinsi Jatim, Anwari mengatakan, berkas terkait pengajuan penetapan lokasi untuk buffer zone dari Surabaya memang sudah diterima. Akan tetapi saat ini pihak pemprov sedang melakukan kroscek ulang. Terutama masalah kepemilikan lahan.

“Jadi di sana itu kan sekelilingnya adalah tambak. Kami sedang lakukan kroscek dengan bertanya ke pihak kelurahan dan kecamatan terkait kepemilikan lahan di sana. Lahannya memang cukup luas, ada 17 hektar,” kata Anwari.

Lebih lanjut, Anwari menyebutkan juga ada beberapa berkas yang belum lengkap dan pihaknya meminta agar dokumennya dilengkapi terlebih dahulu.

Di sisi lain, di TPA Benowo saat ini, salah satu project yang sedang dikerjakan adalah pembuatan power plan dari tenaga sampah.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya Chalid Bukhari mengatakan bahwa sampah di sana sudah berhasil menghasilkan listrik.

“Sekarang sudah jalan yang coverfield, yang gasifikasi masih belum. Kalau yang coverfield itu sudah kami jual hasil listriknya dengan harga Rp 1250 per kwh. Yang gasifikasi targetnya 2018 lah bisa berhasil jalan,” tambah Chalid.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved