Berita Surabaya
Mayoritas Masalah Gigi adalah Gangguan pada Gigi Berlubang, Ini Buktinya
Gangguan ini memang sangat umum, tapi tidak bisa disepelakan begitu saja, sebab jika sampai infeksi akan mengganggu fungsi tubuh lainnya.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Puluhan ibu penggerak PKK, kader Posyandu, dan kader Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di kecamatan Semampir mengikuti diskusi tentang perawatan gigi.
Hasilnya, mayoritas warga di daerah rural atau pinggiran kota Surabaya ini masih rendah dalam melakukan perawatan gigi.
"Sikat gigi seadanya. Gigi berlubang dibiarkan. Hingga akhirnya rusak, ompong dan mengganggu fungsi makan," cerita Ningsih, penggerak PKK dari Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Semampir, Kamis (25/2/2016).
Dalam acara digelar OT Group itu, Ningsih menyampaikannya hal itu ke drg Ida Bagus Samuel, sebagai pemberi materi tentang perawatan gigi dasar.
"Karena gigi yang berubah bentuk, fungsinya terganggu, tentu mengganggu proses menguyah, hingga bisa berimbas pemilihan makanan yang masuk ke tubuh," jelas drg Ida Bagus.
Data riskesdas tahun 2013 mencatat 72 persen masalah gigi ternyata pada gangguan gigi berlubang. Gangguan ini memang sangat umum, tapi tidak bisa disepelakan begitu saja, sebab jika sampai infeksi akan mengganggu fungsi tubuh lainnya. Bahkan bisa jadi penyebab gangguan jantung dan sistem syaraf di otak.
Dia menyarankan jika mempunyai karies gigi sebaiknya diperiksakan.
“Anak-anak merupakan penderita karies paling banyak untuk saat ini, apalagi mereka yang tidak minum ASI karena kadungan zat-zat pada susu formula lebih berat sehingga risiko terkena karies juga makin tinggi,” lanjutnya.
Penyebab karies pada gigi, disebut drg Ida Bagus ada beberapa faktor, di antaranya waktu menggosok gigi yang kurang tepat, makanan yang dikonsumsi berpotensi merusak gigi, kondisi gigi itu sendiri, dan bakteri dalam mulut.
Dari segi makanan, biasanya kebanyakan yang merusak gigi adalah sisa makanan yang tidak dibersihkan atau sudah dibersihkan tetapi masih tertinggal.
Sisa makanan yang ada dalam mulut akan berubah menjadi asam sehingga gigi menjadi rentan serangan asam, jika dibiarkan terus - menerus maka kalsium gigi akan mengeropos dan timbulkan kerusakan pada gigi.
Selain memperhatikan dari segi makanan, sebaiknya untuk alat yang digunakan membersihkan gigi juga perlu diperhatikan seperti sikat gigi.
Data Nielsen tahun 2014 mencatat rata-rata masyarakat Indonesia mengganti sikat giginya 10 bulan sekali, padahal seharusnya yang benar minimal tiga bulan sekali sikat gigi harus diganti.
Mengingat bakteri sangat mudah berkembang biak terutama lewat sikat gigi yang lembap dan terlalu lama digunakan.
“Peneliti dari the University of Manchester pernah menemukan lebih dari 200 juta bakteri terdapat pada bulu sikat gigi termasuk juga bakteri E coli dan staphylococci.
Head of Corporate and Marketing Communication OT Group, Yuna Eka Kristina, menambahkan, acara edukasi untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi.
Acara serupa juga akan di beberapa kota besar lainnya. Tujuannya untuk memberi pemahaman supaya masyarakat rutin mengganti sikat gigi dan memperhatikan kesehatan gigi mereka.