Berita Surabaya
Pemerintah Tambah Angaran Pariwisata hingga 200 Persen, Targetnya 2019 Datangkan 20 Juta Wisatawan
“Targetnya, pada tahun 2019 nanti angka kunjungan Wisman bisa mencapai 20 juta kunjungan.”
Penulis: M Taufik | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA – Pemerintah terus mendorong industri pariwisata Tanah Air. Ini karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat dan sektor ini menjadi salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara.
“Devisa dari minyak, tambang dan sebagainya semakin lama bakal menyusut dan habis. Sementara dari pariwisata, malah terus naik dan tak ada habisnya,” ungkap Lathifah Shohib, anggota Komisi X DPR RI usai menghadiri acara Diseminasi Standar Usaha Pariwisata di Surabaya, Rabu (24/2/2016).
Dengan alasan itu, kata kader PKB ini, DPR menyetujui peningkatan anggaran untuk sektor pariwisata hingga lebih dari 200 persen. Untuk menarik wisatawan mancanegara (Wisman), tahun ini ada anggaran sekitar Rp 2,9 triliun, sedangkan untuk wisatawan nusantara (Wisnus) sekitar Rp 1 triliun.
“Targetnya, pada tahun 2019 nanti angka kunjungan Wisman bisa mencapai 20 juta kunjungan,” lanjutnya.
Melihat tren pertumbuhan angka kunjungan wisata belakangan ini, Kementrian Pariwisata juga mengaku yakin bisa memenuhi target tersebut. Tahun 2015 kemarin, angka kunjungan Wisman mencapai 10,4 juta kunjungan dari target 10 juta kunjungan, dan untuk tahun 2016 ini ditargetkan meningkat lagi menjadi 12 juta kunjungan.
Sementara Wisnus, dari angka kunjungan tahun 2015 kemarin mencapai 225 juta kunjungan, ditargetkan naik menjadi 260 juta kunjungan tahun ini.
“Angka kunjungan Wisman dan Wisnus akan terus meningkat, apalagi pemerintah mulai membuka sejumlah bandara perintis dan pelabuhan baru di sejumlah lokasi,” sambung Agus Priyono, Asisten Deputy Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata di kesempatn yang sama.
Selain sejumlah infrastruktur, menurutnya, pemerintah juga berupaya mendorong sektor ini lewat sertifikasi para pelaku usaha pariwisata. Tujuannya, untuk meningkatkan daya saing para pelaku industry pariwisata, khususnya menghadapi ketatnya persaingan memasuki era MEA (masyarakat ekonomi Asean) sekarang ini.
“Harapannya, kedepan industri pariwisata bisa menjadi penyumbang terbesar pendapatan negara, karena potensinya yang sangat besar,” sambung Agus.
Sertifikasi itu digelar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Tahun 2014 ada 4.940 orang pelaku industry pariwisata di Jatim ikut program sertifikasi, dilanjutkan pada 2015 tercatat ada 5.450 orang.
Dan tahun 2016 ini, targetnya ada 10.000 orang pelaku usaha pariwisata di Jatim yang bisa sertifikasi.
“Dalam program sertifikasi ini, Pemprov Jatim untuk tahun 2016 menyumbang 500 orang. Sisanya, dari program Kementrian Pariwisata dan sejumlah instansi lain,” papar Jarianto, Kepala Dinas Pariwisata Pemprov Jatim usai menghadiri acara yang juga diikuti oleh perwakilan Pariwisata dari semua daerah di Jatim tersebut.
Tentang kunjungan wisatawan, Jawa Timur masih didominasi wisatawan lokal. Terutama wisata religi ke makam-makam wali yang ada. Tercatat, sepanjang tahun 2015 ada sekitar 25 juta kunjungan. Sementara dari di Kementrian Pariwisata menyebut, tujuan utama Wisman ke Indonesia masih didominasi tiga daerah, Bali, Jakarta dan Batam. Jumlahnya mencapai 90 persen dari total kunjungan Wisman yang ada.
Untuk Jawa Timur, menurut Jarianto, tahun 2015 kemarin tercatat ada 48,5 juta kunjungan Wisnus dan 523.000 Wisman.
“Meski terbilang masih kecil, kunjungan Wisman tersebut cukup bagus peningkatannya dibanding tahun 2014 yang tercatat sebanyak 463.000 kunjungan. Dan tahun 2016, kami menargetkan ada peninkatan 10 persen dari kunjungan 2015,” terangnya.
Dukungan terhadap sektor pariwisata, masih kata dia, juga terus dilakukan oleh Pemprov Jatim. Mulai dari perbaikan infrastruktur yang menjadi akses utama tempat-tempat pariwisata yang ada. Dan dibukanya beberapa bandara perintis, seperti di Sumenep, Bawean, Jember, juga diyakini sangat membantu pertumbuhan sektor pariwisata Jawa Timur.