Minggu, 3 Mei 2026

PON Jabar 2016

Melihat Cara Pelatih Sepak Takraw Jatim 'Merekatkan' Pemain Yunior dan Senior

#SURABAYA - Bahkan, juga meraih kemenangan saat melakoni ajang persahabatan di Malaysia.

Tayang:
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Yuli
repro: Bobby Constantine Koloway
Tim Sepak Takraw Jatim seusai pertandingan persahabatan dengan tim dari Universitas Sains Malaysia (USM). Mereka diproyeksikan mewakili Jatim di PON XIX/2016 mendatang. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebagai olahraga yang dimainkan oleh tim, Sepak Takraw tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan kerjasama antar pemain.

Di sisi lain, merekatkan pemain berstatus senior dengan adik tingkat yang baru bergabung dengan tim juga bukan perkara gampang.

Hal ini disadari benar oleh jajaran pelatih sepak takraw Jatim untuk PON Jabar 2016. Berbagai intruksi unik pun dijalankan oleh sepak takraw Jatim untuk mengatasi masalah tersebut.

Sepak takraw menjadi salah satu cabang olahraga yang akan menjadi tumpuan Jatim dalam mendulang emas di ajang PON mendatang. Cabor tersebut akan mengirimkan dua tim, yakni satu tim putra dan satu tim putri.

Masing-masing tim akan terjun di empat kelas, yakni tim, beregu, tim double, dan double even. Total, cabor tersebut berpeluang menambah delapan emas.

Khusus untuk tim putra, sepak takraw akan mengirimkan 12 atletnya. Selain akan diisi oleh jajaran pemain berpengalaman, empat orang pemain baru akan dimasukkan di tahun ini. Dia adalah Slamet, Aldi, Ebi, dan Fathan.

Selain belum pernah bertanding di ajang sekelas PON, usia mereka juga tergolong belia. Saat ini keempat pemain tersebut tercatat sebagai siswa SMAN Olahraga (SMANOR), Sidoarjo.

Menurut M Kabib, pelatih tim takraw putra Jatim, jenjang usia memang tak mempengaruhi penilaian terhadap pemilihan pemain.

"Paling penting, pemain tersebut memiliki kemampuan dan tekad yang kuat untuk setara dengan para senior, pemain tersebut bisa bergabung," tutur Kabib, di sela acara tes fisik timnya di kantor KONI Jatim, Rabu (24/2/2016).

Hal ini juga pernah dilakukannya ketika Jatim berhasil menjadi juara umum di cabor takraw pada PPN 2012 lalu. Saat itu, sepak takraw berhasil meraih tiga emas, dua perak, dan dua perunggu, dari delapan kelas yang diikuti.

Masih menurutnya, seleksi terhadap para pemain muda memang telah dilakukan sejak lama. Oleh karena itu, dirinya sangat yakin dengan kemampuan para pemain pilihannya itu. "Kami pantau sejak di POR-Prov dan POP-nas. Akhirnya terpilih mereka," lanjutnya.

Lebih lanjut, saat ini dirinya lebih menekankan kepada mereka tentang pentingnya proses adaptasi dengan "sang kakak". "Selain para yunior yang berupa beradaptasi, para pemain senior pun harus ikut membantu," imbuhnya.

Untuk mempermudah jalannya adaptasi tersebut, berbagai ajang pemanasan unik pun dilakukan. "Mereka sebelum latihan teknik, main sepak bola dulu. Biar sampai keringatan, baru sesudahnya latihan teknik," tandasnya.

Sepak bola dipilih karena olahraga tersebut dianggap paling disukai oleh para pemain, setelah takraw. Bukan hanya itu, para pemain senior juga diharuskan menjadi pasangan para pemain muda ketika berlatih passing.

"Ini supaya para pemain lebih rileks ketika main bareng," tandasnya.

Sebagai buah dari latihan ini, kinerja tim pun berkembang optimal. Di antaranya, berhasil meraih medali perak di Pra-Pon lalu. Bahkan, juga meraih kemenangan saat melakoni ajang persahabatan di Malaysia.

"Ini penting untuk regenerasi tim. Suatu saat nanti, pemain muda juga akan menjadi senior," tandas kapten tim takraw putra, Syamsul Hadi. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved