Breaking News:

Kepulangan Eks Gafatar

Eks Gafatar Enggan Dipulangkan ke Kampungnya di Blitar

" kami juga khawatir, warga sekitar nggak mau menerima kehadiran kami karena dikait-kaitkan dengan pengikut aliran yang dianggap sesat," tutur Yudi ke

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Yoni
Surya/Imam Taufiq
Yudi dan istrinya (menggendong anaknya), saat akan diantarkan pulang ke rumah mertuanya di Nganjuk karena enggan pulang ke rumahnya di Kecamatan Kademangan. 

SURYA.co.id | BLITAR - Gelombang kepulangan anggota eks Gafatar (Gerakan Fajar Nusanttara) asal Kabupaten Blitar, terus berlangsung.
Seperti Rabu (24/2/2016) pagi, satu keluarga, yang terdiri tiga orang, tiba di Kantor Dinas Pemuda. Olah Raga, Budaya, dan Pariwisata (Porhudpar) Pemkab Blitar.

Mereka itu adalah Yudi Suliswanto (34), dan istrinya, Nila Wati (34), serta anaknya, Juang Mukti Pertama, yang berusia enam bulan.
Mereka dipulangkan setelah tinggal dua tahun di Kalimantan Timur (Kaltim), tepatnya di Desa Mendung, Kecamatan Muarapahu, Kabupaten Kutai Barat.

Namun, setiba di kantor Porhudpar, siang itu, Yudi malah enggan dipulangkan ke kampung halamannya, di Desa Pakisaji, Kecamatan Kademangan. Alasannya, mereka khawatir tak diterima oleh warga setempat.

"Kami bingung, mau pulang ke mana. Di rumah orangtua saya, juga dihuni banyak keluarga. Ada keluarga kakak dan adik saya, sehingga kami nggak mungkin tinggal serumah di situ. Malah, jadi beban mereka. Ditambah, kami juga khawatir, warga sekitar nggak mau menerima kehadiran kami karena dikait-kaitkan dengan pengikut aliran yang dianggap sesat," tutur Yudi kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Padahal, akunya, kepergiannya ke Kaltim itu, tak ada kaitannya dengan aliran itu, melainkan hanya semata-mata ingin merubah kehidupannya.

"Kami ini justru nggak paham dengan tuduhan itu, wong kami ini nggak ikut aliran tertentu. Kami di sana, hanya bercocok tanam," paparnya.

Karena enggan balik ke kampung halamannya, akhirnya Yudi beserta anak dan istrinya minta diantarkan pulang ke rumah mertuanya, di Desa Plosoharjo, Kecamatan Pace, Nganjuk. Mereka diantarkan petugas Kesbangpol Linmas dan Dinas Sosial Pemkab Blitar.

"Meskipun tak tinggal di sini, namun mereka tetap jadi cacatan kami. Sebab, informasinya mereka itu tergabung pada eks Gafatar Sidoarjo sejak dua tahun lalu," tutur Drs Mujianto, Kepala Kesbangpol Linmas saat mengantarkan Yudi pulang ke Nganjuk.

Yudi menambahkan, selama dua tahun tinggal di Kaltim, kehidupannya sudah mulai membaik. Tiap hari, ia bercocok tanam, bersama pendatang lainnya, seperti asal Blitar sendiri, Kediri, Trenggalek, dll.
Mereka tinggal sekampung, di perkampungan yang tak lain bekas hutan, yang sudah dibuka jadi ladang pertanian.

"Kalau jumlah pendatangnya, cukup banyak. Namun, yang tinggal sekampung dengan kami ada sekitar 70 KK," tutur Yudi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved