Breaking News:

Berita Surabaya

Psikolog Sosial Unair : Perangi Anonimitas Negatif Komunitas Motor

Namun ada kecenderungan, kalau sudah masuk dalam kelompok tertentu individu itu akan lebih berani.

surya/habibur rohman
Aksi free style komunitas motor saat hadir di Apel Besar Club Motor Bijak (Biker Jempolan Anti Kekerasan) di Kenpark, Kenjeran Surabaya belum lama ini. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Saat ini, terus bermunculan komunitas dan klub. Orang akan cenderung bergabung dalam klub itu tak semata-mata karena memiliki hobi sama.

Namun, ada kebanggaan dan harga diri, manakala bisa bergabung dalam komunitas tertentu.

Seperti saat ini terus bermunculan klub motor, termasuk motor gede. Di dalamnya tidak sekadar menyalurkan hobi bikers atau hobi berkelana dan mengunjungi satu tempat ke tempat lain. Namun saat melintas di jalan dan disaksikan banyak orang, ada kebanggaan.

"Pride atau harga diri dan kebanggaan mereka terangkat karena berada dalam satu kelompok tertentu. Namun saat bergabung di kelompok atau klub motor, muncul yang dinamakan anominitas," ujar Psikolog Sosial Unair, Dr MG Bagus Ani Putra Psi, Kamis (18/2).

Anonimitas ini dalam konteks psikologi sosial disebut deindividuasi. Yakni, meleburnya setiap individu menjadi satu dalam kelompok tertentu. Tak jelas identitas dan sosok individu itu. Yang menonjol, adalah kelompok itu.

Namun ada kecenderungan, kalau sudah masuk dalam kelompok tertentu individu itu akan lebih berani. Bahkan, di antara para indinvidu ini cenderung lebih berani, agresif dan mudah menimbulkan vandalisme. "Ada potensi liar dan sulit dikendalikan. Cenderung melanggar," tambah Bagus.

Sekelompok klub motor itu mengekspresikan kebanggaan mereka dengan arak-arakan di jalan. Mereka mempersenjatai diri dengan tongkat lampu. Padahal, tongkat menyala ini tidak dibenarkan dalam aturan berkendara motor bukan petugas.

Tidak hanya itu, dengan mengatasnamakan kelompok, para bikers itu memenuhi jalan. Meski di situ tak ada polisi yang mengawal. Namun mereka berpolah seakan petugas yang bisa menguasai jalan.

"Merasa terlindungi karena kelompoknya. Jika kemudian harus bertanggung jawab bukan tanggung jawab pribadi. Tapi ramai-ramai. Ini wajar dalam perilku manusia," katanya.

Jika terus berkembang, anonimitas yang lebih sering melanggar, inilah anonimitas negatif. Kelompok lain atau masyarakat tak boleh membiarkan itu terjadi. Apalagi mengganggu kenyamanan di jalan raya.

Sementara, kekuatan untuk mengajak anonimitas ke arah positif adalah masyarakat. Inilah kekuatan yang sesungguhnya. Menolak klub motor berlaku arogan di jalan. Caranya mencegah, bisa menghujat di medsos saja.

"Saya termasuk salut dengan warga di Yogyakarta yang berani mencegat arak-arakan klub moge. Di medsos mendapat simpati dan dukungan," ujar Bagus.

Jangan malah masyarakat senang menonton. Jika terus dibiarkan akan membawa racun. Karena tampak bahwa arak-arakan di jalan itu membanggakan. Konvoi lulusan bisa juga inspirasi dari klub itu.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved