7 Tahun KarSa Pimpin Jatim

Foktor-faktor ini Mebuat Pakde Karwo Yakin Jatim Jadi Provinsi Terkemuka di ASEAN

“Faktor penting lainnya, Jatim memiliki kultural egaliter (terbuka) dan spiritualitas menjadi basis penting dalam pertarungan di era globalisasi."

Foktor-faktor ini Mebuat Pakde Karwo Yakin Jatim Jadi Provinsi Terkemuka di ASEAN
surya/sugiharto
Pakde Karwo dan Gus Ipul didampingin istri masing-masing pada sesi foto bersama. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pakde Karwo mengatakan, pihaknya yakin Jatim bisa menjadi provinsi terkemuka di ASEAN. Karena, berbagai syarat yang dibutuhkan sudah ada.

Hasil penelitian Lee Kuan Yew Institute Singapura, lembaga yang menjadi rujukan di tingkat Asia menjelaskan, bahwa peluang Jatim menjadi provinsi terkemuka di ASEAN sangat besar. Karena saat ini, daya saing yang dimiliki Jatim tertinggi dan nomor dua setelah DKI Jakarta. Lalu memiliki SDM yang bagus dan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah.

“Faktor penting lainnya, Jatim memiliki kultural yang egaliter (terbuka) dan spiritualitas yang menjadi basis penting dalam pertarungan di era globalisasi,” katanya kepada Surya.co.id, Rabu (10/2/2016).

Untuk faktor kultural dan spiritual, kata Pakde, Jatim bisa jumawa. Karena provinsi lain di Indonesia, bahkan provinsi di negara ASEAN lain belum tentu memilikinya. Kultur inilah yang menjadi filter globalisasi.

“Inilah yang menjadi nilai plus dan modal sangat penting,” tandasnya.

Dalam tataran provinsi religius itulah, Pakde ingin dibangun SDM yang berkualitas dan kompeten dengan tetap ngugemi moralitas. Moralitas ini sangat penting, agar pelaku ekonomi tidak menjadi animal economic (binatang ekonomi), tapi menjadi manusia yang peduli dengan sesama.

Dirinya, kata suami Nina Kirana Soekarwo, bukan ngecap. Kerasnya kompetisi di era liberalisasi ternyata masih membuat masyarakat kecil di Jatim tetap bisa bertahan dengan usaha-usaha mikronya.

Ini berarti, peluang melakukan pengembangan usaha mikro yang tidak dipedulikan menjadi dipedulikan. Ada kesejajaran dan menang. Ada kesejajaran pengusaha kecil dengan pengusaha besar. Pengusaha besar tidak memakan yang kecil, dengan rumus efisiensi terhadap yang kecil.

“Jadi, semua berdampingan dan saling memerlukan. Inilah ekuilibrium (keseimbangan pasar) yang ketemu di posisi Jatim,” terangnya.

Penulis: Mujib Anwar
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved