Sastra

Masih Banyak Pelajar di Surabaya Gandrung Sastra Jawa, Ini Buktinya

"Rata-rata belum mengenal gurit yang menuntut rasa saat mengungkapkan. Peserta masih membacakan gurit seperti puisi," kata Giryadi.

endah imawati
SEMANGAT - Para peserta Festival Nembang Macapat, Maca Geguritan, Maca Crita Cekak Tahun 2016 antusias mengikuti lomba yang diadakan di Balai Pemuda Surabaya, Rabu (10/2/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Setengah gedung Balai Pemuda di Surabaya dipenuhi anak muda yang duduk nyaman menikmati campursari.

Itu mengingatkan orang tentang kepedulian anak muda terhadap budaya Jawa.

Suasana sama meriahnya dengan konser musik meski minus jingkrak-jingkrak ketika suara campursari memenuhi gedung Balai Pemuda, Rabu (10/2/2016).

Puluhan siswa tingkat SMP dan SMA/SMK itu sedang mengikuti Festival Nembang Macapat, Maca Geguritan, Maca Crita Cekak Tahun 2016.

Melihat semangat para peserta, kekhawatiran akan lunturnya kepedulian dan gandrungnya anak muda pada budaya Jawa bisa ditepis.

Jayananta Eka Aditya, siswa kelas XI SMK 12 Surabaya, tampil terakhir dengan nomor 67. Ia membacakan gurit Suroboyo. Membaca geguritan bukan hal baru baginya.

Tahun lalu siswa Jurusan Pedalangan itu sudah mengikuti lomba Kidungan se-Jatim dan menyabet juara 1.

Ketika maju, Jayananta mendapat tepuk tangan meriah dari pendukungnya. Siswa yang kerap diundang untuk mendalang dan nembang itu menikmati segala yang berbau budaya Jawa.

Vito dari SMPN 3 Surabaya yang ikut nembang mengaku menikmati.

"Saya belajar nembang sejak SD, tetapi serius belajar sejak kelas VII," kata Vito.

Halaman
12
Penulis: Endah Imawati
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved