Inovasi

Obat DBD Ciptaan Professor dari Unair Belum Produksi Massal, Ini Sebabnya

#SURABAYA - Tanaman ini biasa dijadikan obat tradisional suku Aborigin di wilayah New South Wales, Australia untuk mengobati batuk dan demam.

Obat DBD Ciptaan Professor dari Unair Belum Produksi Massal, Ini Sebabnya
sulvi sofiana
Prof Nasronudin, peneliti Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Obat Demam Berdarah Dengue (DBD) ciptaan Prof Nasronudin, peneliti Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini telah diuji sejak 3 tahun lalu.

Hingga saat ini masih disiapkan untuk produksi massal karena proses perizinan obat membutuhkan beragam uji kelayakan. Hingga angka toleransi yang didapatkan nol.

“Belum bisa produksi masal masalah obat ini, angka toleransinya tidak boleh 0,1. Ini yang masih kami perlukan untuk uji klinik,” terang Rektor Unair, Moh Nasih saat ditemui SURYA.co.id di Surabaya, Rabu (3/2/2015).

Dikatakannya, sejak riset memberikan hasil pada pengobatan penyakit DBD. Masih diperlukan beragam pengetaesan sesuai standar BPOM. Untuk memenuhi hal itu, dibutuhkan waktu yang tidak singkat dan biaya.

“Obat farmasi berbeda dengan suplemen yang bisa dengan mudah mendapat perijinan,” tambahnya.

Pihaknya juga telah menggandeng sejumlah BUMN untuk memproduksi obat ini jika telah mendapatkan perizinan.

Prof Nasronudin menjelaskan, obat yang ia buat ini berasal dari tumbuhan Melaleuca alternifolia yang berasal dari Australia.

Tanaman ini biasa dijadikan obat tradisional suku Aborigin di wilayah New South Wales, Australia untuk mengobati batuk dan demam.

Obat itu dapat membunuh virus dengue yang disebabkan nyamuk hingga mencapai 96,67 persen karena obat ini bisa memicu kekebalan tubuh, sehingga bisa memberi efek imono modulator pada pasien DBD.

"Saya tidak mengklaim bahwa obat ini pertama di Indonesia untuk virus dengue karena mungkin ada pakar-pakar lainnya yang sedang melakukan penelitian obat-obat serupa, namun tampaknya hal ini merupakan awal dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia untuk bisa merealisasi dan memformulasi dari pada obat anti dengue," paparnya.

"Sekitar dua hingga tiga tahun lalu, kami melakukan penelitian bahan aktif ada obat berbasis tanaman yaitu tanaman perdu yang mempunyai khasiat anti virus. Dalam penelitian ini kami lakukan uji klinis untuk anti virus dengue," katanya ketika ditemui di Rumah Sakit (RS) Unair Surabaya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved