Breaking News:

Polemik Gafatar

Bagong Suyanto: Pendekatan Personal Dibutuhkan Para Eks Gafatar saat Kembali ke Daerah Asal

“Setiap orang dalam eks Gafatar punya alasan dan permasalahan berbeda sehingga bergabung dan bisa meninggalkan kebiasaan dan kehidupan sosialnya."

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
sulvisofiana
Bagong Suyanto 

SURYA.co.id | SURABAYA – Karantina dan beragam penyuluhan selama masa karantina untuk warga eks Gafatar, belum cukup mengembalikan pola pikir mereka.

Hal ini dipertegas Sosiolog Universitas Airlangga, Drs Bagong Suyanto MSi. Seseorang yang telah dterkontaminasi pola pikir dan pemahamannya selama bertahun-tahun, tidak akan bisa cepat kembali hanya dengan penyuluhan berkelompok.

“Setiap orang dalam eks Gafatar punya alasan dan permasalahan berbeda sehingga bergabung dan bisa meninggalkan kebiasaan dan kehidupan sosialnya semula,” tutur guru besar Ilmu Sosial ini.

Dikatakannya dalam ilmu sosiologi, orang-orang yang telah mengalami perubahan keyakinan dan pola pikir ini harus di dekonstruksi kemudia di rekonstruksi.

Dekonstruksi dilakukan dengan pendekatan personal dengan psikolog ataupun pemuka agama.

“Rehabilitasi kultural ini bentuk dekonstruksi,harus ada pendekatan personal bukan yang berjarak seperti hanya ceramah. Kalau ceramah bisa saja jawab iya-iya tapi pikirannya nggak berubah,” terangnya.

Memandang permasalahan eks Gafatar ini tidak bisa disamaratakan. Penanganan antara bapak, ibu, remaja dan anak-anak berbeda.

“Kalau memang pemerintah serius, dana daerah juga cukup untuk memfasilitasi dekonstruksi ini agar bisa kembali direkonstruksi,” jelasnya.

Fase paling sulit menurutnya merupakan fase dekonstruksi pemikiran. Secara teori tahap ini paling susah dibandingkan mengubah perilaku.

Selain itu, masih ada kecenderungan untuk kembali pada kondisi seperti saat mereka memutuskan pergi ke Kalimantan.

“Pendekatan ke personal ini sangat dibutuhkan, tidak bisa dihomogenkan dengan yang lain kalau mau berhasil,” ungkapnya.

Untuk anak memiliki kemungkinan untuk mengalami anomi. Yaitu krisi dan kebingungan akan keyakingan untuk nilai hidup yang dianut.

“Pengembalian anomi ini harus lebih dulu diatasi sebelum melangkah ke pendidikan formal. Karena pendidikan formal ini cukup mudah untuk dilakukan,” tegasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved