Rabu, 6 Mei 2026

Balap Sepeda BMX

VIDEO - Balap Sepeda BMX Bukan Olah Raga Murah, Seperti Ini Serunya

Event ini dihadiri para atlet dari berbagai daerah di Jawa, mulai Banyuwangi di Jawa Timur, Kendal di jawa Tengah, sampai Jakarta.

Tayang:
Editor: Yuli

SURYA.co.id | BLITAR - Balap sepeda BMX memang kurang populer dibanding cabang olah raga lain. Padahal, olah raga itu juga dipertandingkan mulai level Pekan Olah Raga Nasional (PON) sampai Olimpiade.

Meski demikian, atlet dan penggemar cabang olah raga ini tetap eksis. Buktinya saat event Blitar BMX & MTB Cross di lapangan Kelurahan Togogan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, 24 Januari 2016.

Event ini dihadiri ratusan atlet, sebagian perempuan, dari berbagai daerah di Jawa, mulai Banyuwangi, Bondowoso, Jember dan Malang di Jawa Timur, sampai Yogyakarta, Kendal di Jawa Tengah sampai Jakarta.

Lomba itu mempertandingkan berbagai kelompok usia, mulai 5-6 tahun hingga 17 tahun ke atas. Biaya pendaftarannya Rp 100.000 per peserta.

Hadiahnya tidak besar jika dibanding total biaya alat tanding dan ongkos transportasi serta biaya lain-lain. 

Namun, atlet dan pendukung olah raga ini tetap antusias meski harus keluar ongkos besar.

Salah satunya Nurfaif Abbas, manajer Bahurekso BMX Academy dari Kendal.

daa

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini membawa likuran pebalap mulai umur 5-6 tahun sampai 17 tahun ke atas.

"Kalau pebalap yang masih kecil, orangtuanya harus ikut," kata Faif.

Ia menyadari, cabang olah raga ini tidak populer namun pemerintah tetap harus mendukung. "Jangan hanya sepak bola saja yang dibantu," katanya. 

Faif bersyukur, Pemkab Kendal turut membantu, meskipun berupa bus inventaris untuk mengangkut para atlet dan orangtuanya.

"Kalau sepedanya kami angkut pakai mobil terpisah," ujarnya.

Rombongan Bahurekso BMX Academy tiba di Blitar sehari sebelum lomba. Mereka diinapkan di rumah penduduk sekitar.

"Saya sejak tahun 2.000-an sering main di sini, sejak kuliah di Malang. Makanya, teman-teman di sini masih hafal dengan saya," tuturnya.

Faif sempat vakum mengurusi hobinya karena harus bekerja pada perusahaan yang lokasi tugasnya berpindah-pindah.

"Sejak tiga tahun lalu, saya keluar dari pekerjaan, balik kampung dan membangkitkan lagi komunitas BMX serta kerja sosial lainnya," paparnya.

Faif berkisah, harga sepeda BMX milik atlet binaannya ada yang buatan Indonesia, ada juga yang impor.

Sepeda BMX impor dari Amerika Serikat bisa mencapai Rp 20 juta lebih. Semakin mahal semakin ringan bobot sepedanya.

Dari kejuaraan di Blitar ini, atletnya yang masuk final golongan usia 17-18 tahun bernama Lucky Johansyah. Posisinya di nomor tujuh.    

Lantaran komunitasnya baru bangkit, Faif belum bisa memberangkatkan atlet-atletnya ke kejuaraan di luar negeri.

Kegairahan terhadap balap sepeda BMX juga ditunjukkan Agus Suryono, pensiunan guru asal Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Banyuwangi,  .

Dia mengantarkan dua anaknya, Erlangga Adam Aldama (16) dan Yovida Ade Aradea (12), untuk bertanding di Blitar.

"Yang ini impor dari Amerika tapi saya belinya di Kuala Lumpur, Malaysia. Total Rp 35 juta," ujar Agus menjunjuk sepeda yang dipakai bertanding Erlangga Adam Aldama.

"Crank-nya ini saja Rp 14 juta," imbuhnya, menunjuk pada tuas pedal.

Agus memang gandrung pada olah raga ini. Anak pertamanya, laki-laki yang kini sudah punya anak di Bali, juga didorongnya bertanding di mana-mana sejak remaja.

Tidakkah khawatir mengganggu studi mereka?

"Tidak. Kebetulan anak-anak saya pintar. Nilainya bagus-bagus meski tidak ranking satu," tukasnya. 

Namun, Agus begitu gelisah saat di tepi sirkuit. Dia berkali-kali berusaha menelepon dokternya di Banyuwangi perihal anaknya, Yovida Ade Aradea, yang mendadak sakit.

"Dia harusnya main lagi di semi final, tapi lagi sakit. Saya sudah coba pinjam motor ke panitia untuk mengantar ke dokter sekitar sini, tapi katanya tidak ada motor," keluhnya.

Agus lantas membujuk Yovida Ade Aradea agar tidak turun di semi final, namun anaknya bersikeras ikut.

bmx

"Sayang sebetulnya. Anak-anak saya biasa main di Siak, Malaysia sampai Thailand," ujarnya.

Agus lalu menunjukkan koleksi fotonya dari handphone yang mengabadikan pose anak-anaknya saat meraih juara di luar negeri.

Atlet balap sepeda BMX juga ada yang perempuan. Salah satunya masih bocah dari Yogyakarta yang merupakan keponakan artis Roro Fitria.

Sayangnya, meski lomba ini dihadiri atlet dari berbagai daerah, penontonnya tidak tergolong ramai.

Panitia sebetulnya menyebutkan tontoan itu gratis tapi ternyata ada pemuda sekelompok pemuda yang menarik uang Rp 5.000 tanpa karcis kepada setiap penonton yang hendak masuk kawasan sirkuit.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved