Berita Surabaya

Pakde Karwo Sebut hanya Thailand Mampu Kalahkan Perdagangan Jatim

"Terutama, perdagangan agro dan hortikultura yang kita kalah dengan Thailand," beber Pakde Karwo.

Pakde Karwo Sebut hanya Thailand Mampu Kalahkan Perdagangan Jatim
surya/mujib anwar
Duta Besar Denmark untuk Indonesia HE Mr Casper Klynge saat bertemu dengan Gubernur Jatim Soekarwo, Kamis (13/8/2015) pagi, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Thailand menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang bisa mengalahkan Jatim di bidang perdagangan.

Demikian ditegaskan Gubernur Jatim Soekarwo, Minggu (3/1/2016), menyikapi resmi diberlakukannya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2016 ini.

Menurut Pakde Karwo, berdasarkan data neraca perdagangan Jatim sampai bulan Nopember 2015. Perdagangan Jatim di kawasan negara ASEAN surplus, kecuali Thailand.

Ekspor yang paling besar adalah perhiasan dengan nilai mencapai 3,417 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp 40 triliun. Setelah itu, disusul ekspor furnitur menempati posisi kedua.

"Dari 10 negara ASEAN, perdagangan dengan Vietnam, misalnya, surplus kita sampai 142 juta dolar Amerika," tegasnya.

Hanya dengan Thailand sampai saat ini nilai perdagangan Jatim masih minus.

"Terutama, perdagangan agro dan hortikultura yang kita kalah dengan Thailand," beber Pakde Karwo.

Gubenur dua periode ini menyebut, kekalahan itu, karena Negara Gajah Putih tersebut punya keunggulan dibanding Indonesia.

Di Thailand, menurut dia, Raja Bhumibol Adulyadej mempunyai 10 lembaga penelitian khusus untuk mengembangkan dan membantu kualitas serta produksi komoditas argo dan hortikultura di sana.

"Itulah yang menyebabkan perdagangan kita masih kalah dengan Thailand," imbuhnya.

Meski demikian, pihaknya, kata Pakde Karwo, akan terus berusaha meningkatkan kualitas serta produksi agro dan hortikultura di Jatim agar mampu bersaing dengan produk komoditas sejenis dari negara lain.

"Khususnya dari sesama negara ASEAN," tukasnya.

Dikatakan, 2016 merupakan tahun yang sangat ‘menantang’, dengan diberlakukannya pasar bebas terbuka. Apa saja bisa masuk ke Jatim.

"Dalam situasi seperti ini, filter yang paling bagus adalah mencintai produk-produk bangsa sendiri," tegasnya.

Dengan begitu, dapat menumbuhkan rasa nasionalisme. Dalam pengertian bahwa pasar bebas yaitu mencintai produk-produk dengan syarat standardisasi dan kualitasnya juga baik.

"Dengan kualitas SDM yang baik dan intelegent market yang bagus itulah, kita akan menarik manfaat dari pasar bebas," pungkas Pakde Karwo.

Penulis: Mujib Anwar
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved