Citizen Reporter

Di Medan Berat Ini Sang Jenderal TetapTegar

tak semua mulus menapaki rute 40 km ini, yang selamat ke finish meyakini pemenang adalah dia yang mampu menjaga kejujuran dan kebenaran hingga akhir

Di Medan Berat Ini Sang Jenderal TetapTegar
roodebrug soerabaia
Napak tilas jejak gerilya Jenderal Soedirman 

Oleh : Rintahani Johan Pradana & Khantsa Nabilla Syahidah
Roodebrug Soerabaia

SABTU, 19 Desember 2015, nomor dada telah terpasang, peta sebagai bekal rute perjalanan juga telah dikantongi. “Kita akan menempuh jarak kurang lebih 40 km,“ kata pembawa acara pagi itu.

Gerimis menandai keberangkatan ratusan peserta yang diberangkatkan oleh Wali Kota Kediri. Mereka akan menapaki jejak gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman, dari Kediri hingga Bajulan, Nganjuk. Atribut kepahlawanan dan senjata dalam genggaman, mendominasi penampilan peserta. Pun, Komunitas Roodebrug Soerabaia, siap menantang medan berat.

Lim Kim Ho, telah dua kali mengikuti acara ini, semangat mengawal barisan Roodebrug Soerabaia di garis depan. “Datang jauh-jauh dari Surabaya, tidak ada tawaran lain selain harus sampai finish dengan cara jujur,” ujarnya membakar semangat.

Dua kilo meter dari titik pemberangkatan, peserta melewati rumah yang sempat disinggahi Jenderal Soedirman. Rumah di Jalan MH Thamrin 44 Kediri ini menjadi lokasi menyusun strategi perang sang jenderal bersama beberapa pasukan lainnya.

Keberadaan beliau sempat diendus mata-mata Belanda sehingga Panglima Soedirman dan pasukan yang ada harus melanjutkan perjalanan lagi. Jalur yang dituju adalah lereng Gunung Wilis, tempat yang juga menjadi rute napak tilas peserta.

Dua jam berjalan kaki, peserta sampai di wilayah perbukitan. Tak ada rumah warga, apa lagi bantuan air minum dan kudapan ringan di depan rumah warga. Salam hangat dan doa bocah TK yang mencium tangan kami di desa terakhir sebelum hutan liar, menjadi modal menaklukkan rute berat berikutnya.

Tanah berlumpur, semak belukar, batuan terjal, naik dan turun bukit menguras sarapan pagi. Tak terbayangkan bagaimana dulu para gerilyawan melewati rute ini, ditambah dengan menandu seorang jenderal yang bernapas dengan paru-paru sebelah.

 

Dalam Pelukan Wilis

Setelah satu jam berada dalam pelukan lereng Gunung Wilis, kami baru bertemu perkampungan. Matahari mulai membakar ubun-ubun. Satu persatu kawan gugur dan gagal menuntaskan medan gerilya.

Namun beberapa dari kami masih bertahan meneruskan petualangan yang belum ada separuh jalan. "Ayo semangat, kita jalan dengan santai,”  Ady Setyawan, menyemangati.

Tenaga benar-benar terkuras. Setelah perbukitan menanjak, baru kami bertemu warung yang sengaja didirikan untuk peserta napak tilas. Saatnya mengisi ulang tenaga.

Perjalanan berlanjut. Mendung seakan berbisik, peserta harus waspada karena bukit dengan kemiringan cukup ekstrem, ditambah kondisi tanah yang rawan longsor, sudah menghadang. Peserta saling memberi semangat juang. Peta rute gerilya di kantong perlahan hancur ditelan hujan.

Menuju garis finish hujan lebat benar-benar membasuh tubuh. “Rasanya jadi tambah semangat,” teriak Lim Kim Ho. Kali ini giliran tumit dimakan lapisan dalam sepatu, setelah berjalan lebih dari tujuh jam. Di depan mata, jalan menurun diguyur air hujan, bagaikan gelombang bah menyapu bukit. Sungguh tantangan yang menguji nyali.

Entah pukul berapa, senja dalam selimut mendung, akhirnya kami menginjakkan kaki di garis finish. Jabat tangan sahabat menghangatkan tubuh kami. Bangga bercampur haru menyatu. Terbayang perjuangan para gerilyawan menempuh medan berat yang baru saja kami lalui. Tantangan yang mereka hadapi tak sekadar datang dari alam, namun juga diburu pasukan Belanda.

Perjalanan yang mengajarkan, bahwa pemenang adalah dia yang mampu menjaga kejujuran dan kebenaran hingga akhir.

 


 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved