Berita Magetan

Polisi Magetan Ragukan Pernyataan Pejabat BLH Ihwal Limbah Pabrik Kulit

Saya heran, Kepala BLH menyatakan sudah dua kali melayangkan surat ke Disperindag Provinsi Jatim terkait limbah LIK yang dikelola UPT Disperindag.

Polisi Magetan Ragukan Pernyataan Pejabat BLH Ihwal Limbah Pabrik Kulit
Google Maps
Sungai Gandong membelah kawasan kota Magetan. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Polisi Magetan meragukan pernyataan pejabat Badan Lingkungan Hidup (BLH) yang menyebutkan sudah dua kali membuat teguran akibat pencemaran lingkungan limbah pengolahan di Lingkungan Industri Kulit.

"Saya heran, Kepala BLH menyatakan sudah dua kali melayangkan surat ke Disperindag Provinsi Jatim terkait limbah LIK yang dikelola UPT Disperindag Provinsi Jatim, tapi satu pun, belum kami terima," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Magetan AKP Rudy Dharmawan kepada SURYA.co.id, Rabu (9/12/2015).

Mantan Kapolsek Diwek, Jombang ini, mengatakan, banyaknya keluhan warga terkait limbah B3 (beracun) yang tidak saja mencemari lingkungan tapi juga udara.

Kepolisian juga punya hak untuk pengambilan sampel (contoh) air terutama Sungai Gandong yang melintas di sepanjang wilayah Magetan, yang selama ini diduga tercemari limbah dari Lingkungan Industri Kulit yang dikelola Unit Pelaksana Tehnis (UPT) Disperindag Jatim itu.

"Kalau surat teguran BLH Magetan ditembuskan ke polisi, tentunya polisi segera membentuk tim pengambilan sampel limbah cair bertujuan untuk kepentingan pembuktian adanya pencemaran lingkungan," jelas AKP Rudy Dharmawan.

Tindakan ini dilakukan, lanjut Rudy Darmawan, karena sejumlah laporan warga kepada instansi terkait tidak pernah ada tindak lanjut.

"Pengambilan sampel itu dikumpulkan untuk keperluan itu, kemudian sampel itu mengalami pemeriksaan secara lebih ketat. Terkait dengan itu beberapa prosedur tertentu harus diikuti secara ketat,"kata AKP Rudy Dharmawan.

Namun, kata Rudy Dharmawan, kalau BLH tidak memberikan teguran ke Kepolisian juga tidak jadi soal, demi penegakan hukum berdasar pengaduan warga yang menjadi korban, polisi bisa langsung melakukan penyidikan, mencari sampel yang diperlukan untuk pembuktian hukum.

"Tidak masalah, ada tembusan dari BLH atau tidak. Polisi tetap bisa melakukan penyidikan untuk mencari sampel adanya pencemaran lingkungan itu, dengan dasar laporan warga," katanya.

Seperti diberitakan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Magetan menyatakan sudah melakukan teguran terkait pencemaran lingkungan akibat limbah pengolahan kulit di LIK UPT Disperindag Jatim sebanyak dua kali, dan ditembusi kepada isntansi terkait. Namun, Kepolisian sampai sekarang belum menerima surat teguran itu.

Susanto warga Perumahan Ringinagung, Kecamatan/Kabupaten Magetan yang mengaku menjadi korban, meski tidak separah warga di sepanjang aliran Sungai Gandong, sempat memprihatinkan sikap Kepala Daerah Magetan yang tidak tanggap dan membentuk tim untuk antisipasi meluasnya pencemaran lingkungan di Magetan, terutama warga diperkotaan.

"Mestinya, bupati sebagai kepala daerah segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk menyelidiki pencemaran lingkungan akibat limbah kulit. Tapi ini bupati diam saja, kelihatannya dijabatan kedua ini sepertinya sudah tidak butuh masyarakat. Masyarakat mengeluh apapun, sepertinya tidak dengar," kata Susanto kepada Surya, Rabu (9/12/2015).

Ia curiga ada hiden income (pemasukan tersembunyi) kepada pejabat atau pemangku kekuasaan. Karena anggota DPRD juga tidak mengambil sikap dengan adanya pencemaran limbah yang setiap hari dikeluhkan warga.

"Kasihan juga warga yang terkena dampak limbah sampai sesak nafas, aneh juga, satu pun anggota dewan juga tidak ada yang peduli. Apa karena ada anggota dewan yang juga pengusaha kulit, atau ada yang menerima hiden income? Boleh saya curiga, karena faktanya, pencemaran limbah itu tetap saja mengganggu warga dan lingkungan," tandas Susanto.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved