Breaking News:

Profil

PNS Surabaya Ini Nyambi Jadi Badut dan Pesulap

Selain suka guyon, Narta juga dikenal paling renyah.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id/Nuraini Faiq
Narta, pegawai Dishub Surabaya sekaligus Badut dan Pesulap 

SURYA.co.id I SURABAYA -  Suasana penuh canda dan ceria pecah saat Narta masuk di Ruang Pos Siar UPT Terminal Purabaya Bungurasih, Selasa (1/12/2015) siang. Ruangan ber-AC pun makin hangat karena canda Narta yang dikenal jago Badut dan sulap.

Maklum, selain suka guyon, Narta juga dikenal paling renyah. "Yo iki Badutnya datang. Tak kiro wetenge blending. Lha kok langsing," reaksi rekan satu kantor Narta di ruangan di dalam Terminal Purabaya itu.

Para rekan sekerja Narta salut dan menghargai kreativitas seni yang melekat pada diri Narta. Di mata rekan-rekannya, Narta juga dikenal kreatif. "Dia juga suka banyol kalau di sini. Tapi dia totalitas orangnya," reaksi Harjo, atasan Narta.

Narta saat ini menjadi buah bibir karena kreativitas seninya. Pria asli Lamongan kelahiran 26 Mei 1968 itu adalah staf di UPT Terminal Purabaya. Selama 19 tahun, dia mengabdi menjadi staf honorer dan kini menjadi PNS di tempat yang sama.

"Saya dulu mengabdi di Terminal Jambatan Merah dan Alhamdulillah diangkat menjadi PNS di Dishub Kota Surabaya. Tapi bakat seni saya terasah saat berjuang di Surabaya," kata Narta yang kini tinggal di Tambak Asri.

Narta berkali-kali mengucapkan syukur karena tak menduga bisa memiliki rumah. Di dalam garasi rumahnya juga ada sebuah mobil dan tiga motor. Narta pun kini makin bahagia karena istrinya, Eli Rozanah juga menjadi guru PNS di salah satu SMA Surabaya.

Bisa Naik Haji
Narta yang kini dikaruniai dua anak dengan satu kuliah dan SMA ini bahkan telah masuk daftar tunggu naik haji. Melalui perjuangan kerasnya, Narta menambah penghasilannya sebagai honorer sejak 2005 dengan menjadi badut.

Narta yang lulus dari SMA di Lamongan berjuang tak kenal lelah di Surabaya. Saat menjadi tenaga honorer dengan honor Rp 30.000, Narta mulai menggali kreativitas dan talenta seninya lebih dalam. Ia terus berusaha keras mencari tambahan penghasilan sampai terjun ke badut.

Pria ini pun menawarkan diri, ngernet sebagai badut karakter (badut dengan kostum mickey, donald, dora, teletubies, dan lainnya) bersama tokoh badut Surabaya, Pri. Bersama Pri, Narta pun diajak tampil di Taman Mini di hadapan Menteri Penerangan Harmoko di era Presiden Soeharto.

Namun tiga kali ngernet, Pri meminta Narta tampil sendiri. Narta pun menyempurnakanya dengan sulap dan permainan untuk dibawa menghibur anak-anak yang ulang tahun. Hasilnya, Narta pun makin laris dari hari ke hari.

Saat ini Narta pun kerap diundang hingga keluar kota, tak hanya Surabaya. Larisnya permintaan manggung membuat tarif Narta manggung meningkat. Dari sebelumnya masih Rp 150.00 kini menjadi rata-rata Rp 300.000 - Rp 500.000.

Sebagian rejeki ini ia tabung sampai membuat kehidupannya lebih baik. Istrinya bisa melanjutkan pendidikan hingga S2, Dan ia pun tak lagi ngontrak dengan satu kamar kos. "Yakinlah bahwa kreativitas seni akan terus dibutuhkan. Seni menghibur orang tak akan ada matinya dan menghasilkan. Tapi harus totalitas," kata Narta yang menolak diundang saat dirinya bertugas di Dishub.

Kini, banyak bocah-bocah di Surabaya mengenal sosok Narta. Pegawai Dishub ini merinding saat dirinya disapa di jalan raya saat bertugas. "Suatu ketika, ada anak di dalam mobil menyapa. Pak Badut. Padahal saya pakaian dinas. Ternyata anak itu masih ingat kumis saya," kata Narta yang selalu menyisihkan 20 persen rejekinya untuk panti asuhan.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved