Berita Magetan

Limbah Pabrik Kulit Tak Diatasi, Magetan Gagal Raih Adipura Ke-9

#MAGETAN - Sekarang ini tanpa pemberitahuan, tenyata tim melakukan penilaian non fisik, yang sebelumnya hanya fisik.

Limbah Pabrik Kulit Tak Diatasi, Magetan Gagal Raih Adipura Ke-9
Google Maps
Sungai Gandong membelah kawasan kota Magetan. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Ketidakberhasilan Kabupaten Magetan meraih Adipura ke-9 tahun 2015 ini, membuat Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat digempur kritik masyarakat.

Pasalnya, sejak zaman Orde Baru (Orba) hingga Orde Reformasi, baru ini kali Kabupaten Magetan gagal meraih penghargaan Adipura dari Pemerintah Pusat.

"Masuk akal, kegagalan meraih Adipura karena polusi akibat Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) di Lingkungan Industri Kulit (LIK) dan pabrik kulit Carma, keduanya milik Pemerintah Provinsi (Pemprov), tidak bisa maksimal memproses limbah. Akibatnya, air sungai Gandong dan udara di kawasan kota Magetan sekitar tercemar," kata Noorman, tokoh pemuda Ringinagung, Kabupaten Magetan kepada Surya, Jumat (27/11).

Namun, tambah Noorman, bisa juga ketidakberhasilan mendapat penghargaan Adipura itu karena BLH tidak tegas dan kurang bisa menempatkan tugasnya sebagai penjaga lingkungan hidup. BLH terkesan hanya berkutat pada bidang proyek pembuatan taman, bukan bagaimana menganulir limbah yang mencemari sepanjang sungai Gandong di kawasan Kabupaten Magetan.

"Kesannya selama ini kerja BLH hanya berkutat proyek taman, yang diduga mengandung fee. Yang memprihatinkan, banyak proyek taman yang tidak tuntas, akhirnya malah seperti tempat sampah, mangkrak seperti contohnya Taman Sarangan' yang biayanya lebih Rp 200 juta itu," jelas Noorman ini.

Meski begitu, Noorman menyadari ketidakberhasilan Kabupaten Magetan meraih Adipura itu disebabkan karena sistem penilaian berbeda dengan penilaian sebelumnya, yang hanya fisik di kawasan kota.

"Dulu mungkin penilaian hanya khusus pada kebersihan kota, kawasan jalan protrokol, parkir kendaraan kawasan kota dan penyedian fasilitas umum. Tapi sekarang kemungkinan penilaian menyeluruh tidak hanya kebersihan kota saja, tapi juga lingkungan," kata Noorman.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan Bambang Setiawan yang dikonfirmasi bisa memaklumi pendapat sebagian masyarakat itu. Kendati dia tidak sepaham dengan pendapat masyarakat itu.

"Saya bisa mengerti hujatan sebagian masyarakat, tapi perlu kami jelaskan, ketidakberhasilan Kabupaten Magetan meraih Adipura ke-9 itu karena sistem penilaian berbeda. Sekarang ini tanpa pemberitahuan, tenyata tim melakukan penilaian non fisik, yang sebelumnya hanya fisik," kata Bambang sambil menambahkan peneriksaan non fisik meliputi, air, udara yang kesemuanya di uji di laboratorium.

Untuk itu, lanjut Bambang, BLH Kabupaten Magetan akan melakukan 15 program yang telah direncanakan untuk bisa meraih kembali penghargaan Adipura yang sudah delapan kali diterima Kabupaten Magetan.

"Ketidakberhasilan ini semata bukan hanya tanggungjawab BLH, tapi juga instansi terkait. Karena itu kami juga tidak men-justice siapa yang salah dan penyebab ketidakberhasilan meraih Adipura. Sebaiknya kita bekerja bersama untuk meraih kembali Adipura itu, karena itu saya menyiapkan 15 program kerja itu,"kata Bambang "Bobo" Setiawan. 

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved