‘Gemas’ Belum Dirumuskan Surat ke BKMS

“Kita masih menunggu manajemen PT BKMS yang dari pusat datang. Jadwalnya tanggal 28 datang ke Gresik."

‘Gemas’ Belum Dirumuskan Surat ke BKMS
surya/sugiyono
PROTES - warga Gemas membentangkan spanduk usai gagal mediasi di Kantor Camat, Selasa (24/11/2015). 

SURYA.co.id | GRESIK - Gerakan masyarakat manyar bersatu' (Gemas) yang unjuk rasa menutup portal pintu masuk Pelabuhan Internasional sekaligus kawasan Java Intregrated Industrial Port and Estate (JIIPE) belum merumuskan isi surat yang bakal dikirim ke PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS).

Sejumlah tuntutan di antaranya dipekerjakan dan mempermasalahkan penting tentang pengurukan sungai yang mengalir ke tambak sudah dibuntu dengan tanah urukan.

“Kita masih menunggu manajemen PT BKMS yang dari pusat datang. Jadwalnya tanggal 28 datang ke Gresik, jika janji itu tidak ditepati maka 17 Desember Gemas akan turun lagi dan menutup total kawasan Pelabuhan Kalimireng (JIIPE, Red),” kata Rosidi, anggota Gemas, Rabu (25/11/2015).

Gemas menutup portal kawasan JIIPE sehingga ratusan truk muatan tanah uruk tidak bisa keluar masuk.

Massa Gemas kemudian ke Polsek Manyar untuk mediasi dengan PT BKMS, tapi tidak menemukan titik temu dan mediasi dibawa ke Kantor Kecamatan Manyar.

Di Kantor Kecamatan Manyar, massa Gemas merumuskan surat berisi tuntutan –tuntutan ke PT BKMS yang ditujukan ke manajemen di Jakarta.

unjuk rasa dipicu kebutuhan kerja dari masyarakat Manyar dan pengurukan sungai yang selama ini untuk mengisi tambak tapi diuruk dijadikan pelabuhan internasional sekaligus kawasan industri.

Diduga pengurukan sungai juga belum ada sosialisasi ke masyarakat Kecamatan Manyar sehingga memicu gejolak warga.

Warga juga kecewa akibat diuruknya sungai tersebut tanpa sosialisasi kepada masyarakat Manyar.

Jika oknum Kepala Desa (Kades) yang bermain seharusnya mengetahui proses awalnya pengurukan sungai tapi ini Kades di wilayah Kecamatan Manyar Komplek yaitu, Manyarrejo, Manyar Sidorukun dan Manyar Sidomukti ada yang tidak tahu.

“Aneh, awalnya lebar sungai ada yang 15 meter sekarang berubah menjadi 4 meter dengan digantikan box culvert. Ada lima sungai di kawasan Kecamatan Manyar yang ada di wilayah Pelabuhan Internasional, sekarang tinggal satu yang belum diuruk,” imbuhnya.

Dengan ditutupnya sungai tersebut, pendapatan nelayan dan petani tambak tidak bisa maksimal sebab kesulitan mendapatkan air dari laut saat pasang.

“Pendapatan nelayan dan petani tambak berkurang hampir 50 persen dari pendapatan sebelum adanya proyek pelabuhan internasional,” kata Rosidi.

Ibnur Palief bagian legal dan perizinan PT BKMS, tidak mau menjelaskan perihal tuntutan Gemas. “No Comment soal itu,” kata Palief.

Penulis: Sugiyono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved