Kamis, 4 Juni 2026

Berita Malang

Topeng Malangan Berbahan Kertas Koran, Murah sebagai Alat Peraga Pendidikan

#MALANG - Pongky, perajin Topeng Malangan kala itu sedang mengikuti pameran yang digelar Komunitas Karya Bumi Malang di mal Jalan Dieng itu.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Yuli
sri wahyunik
Pongky HR, perajin Topeng Malangan. 

Topeng Malangan dikenal sebagai salah satu kesenian tradisional asal Malang. Namun keberadaannya belum menjadi ikon Malang, seperti halnya Gandrung di Banyuwangi atau Reog Ponorogo.

Ingin terus melestarikan Topeng Malangan, Pongky HR terus mengenalkan Topeng Malangan kepada masyarakat. Caranya adalah membuat Topeng Malangan yang unik dan murah, yakni terbuat dari kertas koran.

Laporan reporter SURYA.co.id, Sri Wahyunik, dari Malang

Lelaki kurus berkaca mata itu antusias menjawab pertanyaan seorang remaja dari SMP YPK Malang sambil duduk di atas karpet berwarna merah di stand pameran di Cyber Mall Kota Malang, Selasa (17/11/2015).

Lelaki dan pelajar itu sama-sama memegang topeng. Laki-laki itu, Pongky HR menjelaskan cara membuat topeng tersebut kepada sang pelajar, Shalamita.

Pongky, perajin Topeng Malangan kala itu sedang mengikuti pameran yang digelar Komunitas Karya Bumi Malang di mal yang berada di Jalan Dieng itu. Shalamita mampir dan tertarik datang ke stand Pongky karena topeng yang dipamerkan berbahan baku kertas koran. Bahan baku berbeda dari biasanya yakni kayu dan fiber.

Pongky menjelaskan untuk membuat Topeng Malangan dari kertas koran membutuhkan beberapa langkah, meskipun bisa dilakukan dalam waktu sehari. Kertas koran harus direndam dulu agar berubah menjadi bubur, minimal lima jam. Setelah kertas koran menjadi bubur, barulah dicetak di sebuah cetakan patung yang terbuat dari silikon. Bubur kertas koran itu direkatkan memakai lem dan dicampur kalsium agar cepat kering.

"Untuk membuat bubur butuh waktu lima jam, kemudian kalau proses membuatnya cukup 30 menit saja. Kemudian dikeringkan. Tidak lama kok. Sehingga dalam sehari saya bisa membuat 15 - 20 topeng dari kertas koran ini," ujar Pongky. Shalamita yang mendengar penuturan Pongky tentang cara membuat topeng itu manggut-manggut. Kadang kala ia menyelipinya dengan pertanyaan.

Pongky mengaku sengaja memakai bahan kertas koran dengan sejumlah tujuan. Pertama, bahan bakunya terbilang murah dan mudah didapatkan. Karena itu menjadikan harga jual topeng tersebut lebih murah dibandingkan yang berbahan fiber ataupun kayu. Kedua, karena harganya lebih murah, diharapkan Topeng Malangan itu menarik minat warga untuk membeli dan mengenal salah satu warisan kesenian tradisional khas Malang itu.

"Sebenarnya tujuan utamanya bagaimana masyarakat ini tertarik dengan Topeng Malangan, terutama anak-anak. Seperti contoh di sekolah, kan bisa menjadikan Topeng Malangan ini sebagai alat peraga untuk kesenian tradisional sehingga pelajar lebih mengenal. Kalau memakai kayu, memang harganya lebih mahal. Yang penting kan pengenalan terhadap kebudayaan ini terlebih dahulu," ujar Pongky yang juga seniman itu.

Warga Jalan Karyawiguna Kelurahan Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang itu membandingkan harga topeng berbahan baku kertas koran, fiber dan kayu. Topeng Malangan berukuran panjang sekitar 15-20 centimeter, jika berbahan baku kertas koran hanya dijual seharga Rp 10.000, berbahan fiber dijual Rp 20.000 dan yang berbahan kayu harganya bisa mencapai ratusan ribu.

"Topeng berbahan baku kertas koran juga bisa ditiru anak-anak. Itulah yang membanggakan saya selama ikut pameran di sini. Puluhan anak-anak terutama pelajar datang kemari dan belajar membuatnya. Itu yang paling penting," tegasnya.

Bapak dua anak itu sebenarnya sejak lima tahun lalu telah mengenalkan Topeng Malangan berbahan baku kertas koran. Barulah setahun terakhir, karyanya banyak dilirik wisatawan yang datang ke Malang Raya ataupun sekolah-sekolah. Pongky juga banyak melayani pesanan antara lain dari Pasuruan, Cirebon, juga dari Malang.

"Ini saya sedang mengerjakan 150 topeng, pesanan dari Pasuruan. Katanya untuk lomba mewarnai, jadi saya buat polos barulah peserta lomba yang mewarnai. Mereka pesan yang berbahan kertas koran. Sebelumnya sebuah SD di Rampal juga memesan 15 unit, katanya untuk alat peraga," lanjutnya.

Pongky berharap dengan adanya Topeng Malangan yang harganya lebih murah, kebudayaan benda asal Malang ini tidak punah. Ditambah lagi, jika kesenian Topeng Malangan bisa dijadikan ikon Kota Malang sebagai identitas kesenian khas Malang seperti halnya tarian Gandrung atau Reog.

Sementara itu, Shalamita yang mendapatkan penjelasan tentang Topeng Malangan dari Pongky mengaku senang. Pelajar kelas 9 SMP YPK itu yakin bisa mempraktekkan cara pembuatan topeng berbahan baku kertas koran itu. "Asalkan punya cetakannya, pasti bisa," tegasnya. Ia mengaku senang dengan seni dan ingin mengenal lebih jauh tentang Topeng Malangan tersebut.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved