Berita Magetan

Jalur Pendakian ke Gunung Lawu Ditutup Tanpa Batas Waktu, Berikut Alasannya

#MAGETAN - Rimba seluas 345 hektare lebih di lereng Gunung Lawu terbakar dan 6 hektare rimba di lereng Gunung Wilis.

Jalur Pendakian ke Gunung Lawu Ditutup Tanpa Batas Waktu, Berikut Alasannya
ANTARA/SISWOWIDODO
Sejumlah pendaki antre berfoto di tugu penanda ketinggian Puncak Gunung Lawu di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Rabu (14/10). Menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Sura bersamaan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharam, ribuan pendaki dari berbagai daerah melakukan pendakian puncak Gunung Lawu setinggi 3.265 meter di atas permukaan laut 

SURYA.co.id | MAGETAN - Karena dikhawatirkan terjadi bencana longsor, pintu masuk jalur pendakian puncak Gunung Lawu ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

"Kalau buka pintu masuk jalur pendakian Lawu, akan terjadi bahaya. Karena hampir seluruh jalur jalan menuju puncak Lawu rawan longsor," kata Administratur Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Lawu DS, Nanang Sugiharto kepada SURYA.co.id, seusai syukuran menjelang musim penghujan di Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Rabu (11/11//2015).

Penutupan itu, lanjut Nanang, karena di seluruh kawasan rimba Gunung Lawu hampir tak tersisa tegakan atau pohon, yang selama ini akarnya jadi pengikat batu dan tanah di gunung itu.

Kebakaran saat musim kering lalu mengakibatkan pohon tegakan habis hingga ke akar-akarnya.

"Butuh waktu untuk mengembalikan akar-akar yang selama ini jadi pengikat tanah dan batu bersemi. Karena itu, kita putuskan untuk menutup pintu masuk jalur pendakian ke puncak Lawu di Cemorosewu, hingga waktu yang tidak ditentukan," kata Nanang.

Dikatakan Nanang, penutupan pintu masuk jalur pendakian Cemorosewu itu sudah dikoordinasikan dengan instansi terkait termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan, Polres Magetan dan Badan SAR Nasional (Basarnas).

"Kalau pun nanti malam tahun baru harus dibuka, kita harus melakukan evaluasi keras, agar kejadian sebelumnya tidak terulang. Tapi memang sabaiknya tidak dibuka dulu, karena kondisi tanah di Gunung Lawu sangat rawan longsor. Saat ini di rimba Gunung Lawu hanya ada semak semak, yang pastinya tidak kuat menahan tanah dan batu," jelas Nanang Sugiharto.

Ketika ditanyakan kemungkinan dibukanya pintu masuk jalur pendakian Cemorokandang, wilayah KPH Surakarta, Jawa Tengah seperti saat musim kemarau lalu yang menyebabkan delapan dari sembilan pendaki Gunung Lawu tewas karena rimbanya terbakar itu, sudah dikoordinasikan dengan pihak PT Perhutani pusat agar bisa satu kata.

"Mudah mudahan tidak terulang kejadian yang kemarin, Cemorosewu ditutup, pintu Cemorokandang dibuka. Kita sudah laporkan itu, agar bisa satu kata, bisa ditutup semua. Tinggal antisipasi pintu masuk jalur pendakian ilegal di wilayah Kabupaten Ngawi dan Jawa Tengah," kata Nanang.

Menurur dia, luasan rimba Gunung Lawu yang terbakar selama musim kemarau kemarin mencapai luasan 351 hektare. Rincinya, 345 hektare lebih di lereng Gunung Lawu dan 6 hektare di lereng Gunung Wilis.

'Kedua lokasi yang terbakar itu merupakan rimba, sehingga tidak begitu banyak tegakan, untuk kerugian material sebesar Rp 51.750.000. Saat ini kita melakukan rehabilitasi dan pengkayaan rimba yang terbakar itu, selain menambah fasilitas umum, juga menyediakan alat pemadam kebakaran yang bisa dibawa perorangan untuk tempat tempat yang sulit dijangkau," tandas Nanang Sugiharto

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved