Berita Magetan

UPT Disperindag Provinsi Tuding PT Carma Buang Limbah Beracun

"IPAL kita masih berfungsi dengan baik, jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan IPAL kita tidak berfungsi dan sudah tidak muat mengolah limbah dari

UPT Disperindag Provinsi Tuding PT Carma Buang Limbah  Beracun
Surya/Doni Prasetyo
Proses pengolahan kulit domba dan kambing di pabrik PT Carma Wira Jatim, BUMD Provinsi Jatim di Jalan Tamrin, Magetan. 

SURYA.co.id| MAGETAN - Unit Pelaksanan Tehnis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim, pengelola Lingkungan Industri Kecil (LIK) di Magetan, yang Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) nya dikeluhkan dan dianggap sebagai pencetus penyakit sesak nafas warga masyarakat setempat.

Mereka menuding pabrik kulit PT Carma Wira Jatim, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jatim yang lokasi pabriknya tidak jauh dari LIK UPT Disperindag Provinsi Jatim itu yang membuang limbah beracun (B3) ke Kali Gandong tanpa melalui proses pengolahan.

"IPAL kita masih berfungsi dengan baik, jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan IPAL kita tidak berfungsi dan sudah tidak muat mengolah limbah dari LIK,"kata Kepala UPT Disperindag Provinsi Jatim di Magetan Nilus Dumas Massora kepada Surya, Sabtu (7/11).

Menurut Nilus, air limbah LIK yang dibuang ke Sungai (Kali) Gandong yang melintas di wilayah kota Magetan itu sudah melalui pengolahan, sehingga sudah memenuhi Analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang ditentukan.

"Air bekas pengolahan kulit yang dibuang ke Kali gandong itu sudah sesuai dan itu sudah netral, tidak merusak lingkungan,"jelas Nilus.

Dikatakan Nilus, di Kabupaten Magetan selain LIK ada perusahaan BUMD Provinsi Jatim PT Carma Wira Jatim dan beberapa home industri yang melakukan pengolahan kulit dipabrik mereka masing-masing.

Pabrik diluar LIK UPT Disperindag Jatim ini diketahui tidak mempunyai IPAL dan pembuangan limbah padat (B3/beracun).

"Coba dicek pabrik yang lain (PT Carma dan milik pengusaha kulit diluar LIK) mereka punya IPAL apa tidak, dan dimana dia buang limbah B3 atau limbah padatnya. Kalau di LIK air yang sudah dinetralisir melalui IPAL kita buang ke Kali Gandong, sedang limbah padat kita buang ke TPA Pemkab Magetan,"kata Nilus, seraya mengakui kalau dinding IPAL yang berada disekitar LIK banyak yang bocor, tapi semua sudah dibenahi dan dilakukan penambalan.

"Memang kalau dilihat sepintas bak IPAL itu selalu penuh limbah, itu memang proses pemisahan limbah padat dan air yang sudah bersih, kemudian dialirkan ke Kali Gandong, sedang limbah padatnya kita angkat kita bawa atau buang ke TPA. Soal dinding IPAL yang bocor seluruhnya sudah kita perbaiki,"kata Nilus.

Ditegaskan Nilus, selain semua sudah sesuai prosedur pabrik pengolahan kulit, di LIK sudah lebih lima tahun ini melarang pengusaha mengolah kulit domba dan kambing, yang mempunyai dampak polusi udara sangat tinggi.

"Kita tolak mengolah kulit domba dan kambing karena baunya yang ditimbulkan lebih busuk dari kulit sapi atau kerbo. Sedang di pabrik PT Carma hampir seluruhnya mengolah kambing dan domba. Bisa dibayangkan dari mana polusi udara dan air sungai itu datanganya,"kata Nilus.

Sementara Pimpinan PT Carma Wira Jatim Pujo Purwanto mengaku perusahaannya selama ini hanya mengolah kulit setengah jadi. Pengolahan kulit hanya sampai pengapuran belum sampai menggunakan krom, kimiawi yang mengandung racun (B3).

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved