Hate Speech

Kapolri: Saya Sukses Pancing Diskusi Publik Soal Hate Speech

#MALANG - "Tanpa ada seminar dan diskusi, tapi sudah ada forum diskusi-setiap hari ada di media," kata Badrodin Haiti.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
KULIAH UMUM - Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti saat memberikan kuliah umum di Sport Center Universitas Brawijaya Malang, Jumat (6/11/2015). Dalam kuliah umum ini Kapolri menyinggung surat soal edaran kebencian dan bahaya gerakan radikalisme, serta bahaya narkoba. 

SURYA.co.id | MALANG - Kepala Polisi Jenderal Badroidin Haiti menyatakan, SE (Surat Edaran) tentang hate speech (ujaran kebencian) berhasil memancing diskusi publik cukup intens.

"Tanpa ada seminar dan diskusi, tapi sudah ada forum diskusi-setiap hari ada di media," kata Badrodin saat mengisi kuliah tamu di Brawijaya Sport Centre, Kota Malang, Jumat (6/11/2015).

Kuliah tamu itu bertema "Reaktualisasi Nilai Nilai Kebangsaan Dalam Membangun Masyarakat Demokratis."

Menurutnya, SE/6/X/2015 yang dikeluarkan pada 8 Oktober 2015 lalu itu hanya untuk internal polisi. Menurutnya, itu bukan regulasi baru. "Tanpa ada SE itu, pasal-pasal itu tetap ada sehinga tidak ada norma-norma baru," jelas Badrodin.

Menurut dia, dalam SE itu menjelaskan tata cara penanganannya. "Kalau ada yang khawatir terkena pasal-pasal itu, tidak ada SE itu pun, ada pasal-pasal itu. Misalkan menghina orang," ungkap Badrodin kepada wartawan usai mengisi acara.

Ia menegaskan, dalam SE itu adalah tata cara penanganannya. Dulu diproses hukum, kini ia memberi pengarahan berupa pendekatan/mediasi.

Antara yang melakukan dengan yang terkena dipertemukan dan dicari solusi damainya.

Tapi jika masing-masing tidak mau solusi damai, proses hukum tetap jalan.

Menurutnya, SE lebih bijak dalam proses penyelesaiannya. Bukan sekedar soal penegakan hukum, namun sebagai upaya terakhir.

Ia menyebutkan pula, memasuki abad 21 diwarnai kemajuan pesat di bidang teknologi informasi Seluruh masyarakat dunia terhubung satu sama lain di belahan dunia lainnya dengan cepat.

"Medsos memberikan efek global. Dampak negatifnya, masyarakat jadi anti sosial di dunia nyata. Yang terjadi malah tidak saling interaksi," kata Badrodin.

Sebab, katanya, mereka malah sibuk dengan gadget yang dimiliki. Fisik berdekatan, tapi emosional tidak. Ini akan menjurus pada sikap individualistik.

Ia juga menyoroti tentang remaja-remaja yang membuka situs-situs tertentu yang merusak mental. Termasuk cara membuat bahan bom di internet tanpa susah payah. "

Paham radikalisme lewat jalur-jalur komunikasi yang bisa diakses setiap saat," kata dia.

Dampak dari itu, lanjutnya, cyber crime banyak terjadi. Pelakunya dari luar negeri, tapi beroperasi di Indonesia.

Ia menyebut, lebih dari 1000 orang yang melakukan cyber crima dan dideportasi. "Korbannya di luar negeri," ujar dia.

Terkait ancaman terorisme, ia minta warga peka terhadap lingkungan sekitar kita. Sebab jaringan terorisme itu memang ada.

Sedang kepada anak muda menyoroti masalah penyalahgunaan narkoba yang daya rusaknya luar biasa dan ancaman human trafficking karena letak demografis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved