Berita Pamekasan

Bupati Pamekasan dan Ketua DPRD Pamekasan Tolak Provinsi Madura

Mereka (maksdunya P4M), belum pernah bertemu Pak Bupati sudah mengklaim Pak Bupati memberikan dukungan terhadap pembentukan provinsi Madura. Ini kan s

SURYA/muchsin
MENINJAU – Bupati Pamekasan, Achmad Syafii, saat meninjau pembangunan stadion Pamekasan, Selasa (8/9/2015). 

SURYA.co.id |PAMEKASAN - Bupati Pamekasan, Achmad Syafii, membantah dirinya telah memberikan dukungan terhadap deklarasi pembentukan Provinsi Madura, yang akan digelar di gedung Rato Ebhu, Bangkalan, Selasa (10/11/2015) mendatang.

Achmad Syaffi, yang kini berada di Jakarta untuk urusan kedinasan, saat dimintai komentarnya dan membalas lewat SMS menyatakan tidak benar dirinya memberikan dukungan. Apalagi selama ini pihak penggagas belum pernah koordinasi dengan dirinya.

Diakui, beberapa waktu lalu Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Madura (P4M) kirim surat untuk permintaan audensi bersama Ketua DPRD Pamekasan, menyangkut pembentukan provinsi Madura. Tapi sampai sekarang, belum dilayani, karena masih banyak kesibukan.

Hal senada juga diungkapkan Ketua DPRD Pamekasan, Halili Yasin, menyatakan tidak setuju dan menolak pembentukan Provinsi Madura.

Untuk saat ini yang seharusnya dipikirkan bukan membentuk provinsi, karena belum waktunya.

Halili yang juga adik kandung Bupati Syafii menyatakan, bagi mereka yang berniat ingin membentuk provinsi Madura harus mempertimbangkan banyak hal. Menjadikan Madura sebagai provinsi, merupakan pekerjaan besar dan berat dengan segudang persoalan.

“Mereka (maksdunya P4M), belum pernah bertemu Pak Bupati sudah mengklaim Pak Bupati memberikan dukungan terhadap pembentukan provinsi Madura. Ini kan sudah tidak benar. Dan sudah saya tanyakan langsung ke beliau, itu hanya mengklaim saja,” kata Halili, kepada Surya, Rabu (4/11/2015).

Untuk menjadikan Madura sebagai provinsi modalnya apa. Dari segi sumber daya manusia (SDM), cukup mumpuni.

Tapi mereka tidak tinggal di Madura, melainkan tesebar di beberapa daerah. Dan belum tentu mau kembali ke Madura, karena kondisi Madura tidak mendukung untuk peningkatan karier mereka.

Begitu juga sumber daya ayalam (SDA). Apa cukup mengandalkan sumber minyak saja. Padahal faktanya sampai sekarang, kekyaan sumber minyak itu tidak banyak pengaruh terhadap peningkatan masyarakat Madura, termasuk pembanguann infrastruktur.

Halaman
12
Penulis: Muchsin
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved