Hukum Kriminal Surabaya

PNS Kantor Polisi ini Catut 135 Polisi untuk Utang Bank dan Koperasi

Menurut Hendra, dirinya dicatut terdakwa Titin untuk utang Rp 200 juta di Bank BRI.

PNS Kantor Polisi ini Catut 135 Polisi untuk Utang Bank dan Koperasi
surya/anas miftakhudin
Jaksa memborgol Titin usai sidang, Senin (2/11/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA -Terbongkarnya pemalsuan surat dokumen yang dilakukan juru bayar Polrestabes Surabaya, Titin Suprapti (34), sangat menyengsarakan sekitar 135 polisi di jajaran Polrestabes Surabaya.

Pascaterungkapnya kasus ini, banyak polisi yang pisah ranjang dan rumah tangganya terancam bubar karena beban ekonomi. Gaji yang diterima tiap bulan oleh polisi yang menjadi korban utang di bank dan koperasi oleh terdakwa Titin, langsung dipotong. Padahal polisi yang namanya dicatut oleh terdakwa tak pernah merasakan uang itu.

"Saya sendiri sudah pisah ranjang dengan istri. Ya gara-gara ekonomi karena setelah gaji dipotong untuk nutup utang cuma tinggal sekitar Rp 300.000," ujar Bripka Hendra Prasadja yang ditemui usai menjadi saksi dalam sidang di PN Surabaya, Senin (2/11/2015).

Menurut Hendra, dirinya dicatut terdakwa Titin untuk utang Rp 200 juta di Bank BRI. Berkas utang yang diajukan Titin tidak pernah diketahui oleh Hendra.

Namun saat Hendra yang menjadi anggota Polsek Gayungan kaget setelah dihubungi pihak bank jika uangnya cair, padahal tak pernah mengajukan utang ke bank.

"Setelah uang cair langsung saya kembalikan ke Titin dan saya tidak mau tahu agar uang dikembalikan ke bank. Ternyata uang tidak dikembalikan ke bank tapi dipakai oleh Titin," ujarnya sambil menggelengkan kepala.

Nama Hendra juga dicatut Titin untuk utang Rp 20 juta di Primer Koperasi Polrestabes Surabaya yang kini perkaranya disidangkan di PN Surabaya. Tiap bulan Hendra harus menanggung beban Rp 1,3 juta per bulan.

"Total utang yang harus saya bayar sekitar Rp 4,7 juta. Bagaimana kehidupan keluarga," keluh Hendra.

Hal sama diungkapkan teman Hendra yang namanya tak mau disebut. Ia dicatut oleh Titin di Bank BRI senilai Rp 250 juta. Gaji yang seharusnya untuk keluarga justru dipotong untuk menutupi utang yang tak pernah dinikmati. "Gaji saya tinggal Rp 128.000," keluhnya.

Apakah cukup untuk hidup? "Ya sampeyan terjemahkan sendiri. Uang segitu apa cukup untuk anak dan istri," paparnya.

Dalam sidang kesaksian yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Maxi Sigarlaki SH terpaksa ditunda sampai 11 November 2015.

Sejatinya, sidang lanjutan pemeriksaan saksi menghadirkan dua saksi yakni Hendra Prasadja dan Agus Sujito. Namun dalam pemeriksaan saksi kedua ini terpaksa dibatalkan karena saksi ikut melihat sidang dalam kesaksian pertama.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Tanjung Perak, Irene Ulfa SH, menjelaskan sidang yang digelar ini hanya terkait pemalsuan dokumen terkait pinjaman uang di koperasi Polrestabes Surabaya.

"Ini hanya empat korban dengan nilai kerugian Ro 80 juta," ujar Irene.

Kasus yang membelit Titin Suprapti, PNS Polrestabes Surabaya ini displit menjadi 7 berkas. Di Kejari Tanjung Perak ada 4 berkas dan 3 berkas di Kejari Surabaya.

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved