Berita Magetan

BLH Magetan: IPAL Pemprov Jatim Memang Tidak Berfungsi

Mestinya pejabat Pemprov Jatim belajar ke Cibaduyut. Banyak perajin yang mengolah kulit di rumahnya tapi bau bangkai dan amoniak tidak menyebar.

BLH Magetan: IPAL Pemprov Jatim Memang Tidak Berfungsi
magetankab.go.id
Pusat industri penyamakan kulit di Desa Ringinagung, Kecamatan Magetan dan Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo. Jumlah unit usaha 127 dengan produksi 7.986.000 sqfeet. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Polusi udara di kota wilayah Kabupaten Magetan ternyata memang akibat tidak berfungsinya Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) Lingkungan Industri Kulit (LIK). Kompleks pabrik kulit itu dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jatim.

Akibat polusi udara itu, banyak warga sekitar Sungai Gandong yang membelah wilayah kota Magetan mengalami sesak nafas.

Selain karena IPAL LIK Pemprov Jaitm tidak berfungsi, juga karena sejumlah pengusaha kulit yang memasak kulit di rumah, membuang limbah langsung ke Kali Gandong.

"Saya yakin, IPAL Unit Pelaksana Tehnis (UPT) LIK Provinsi Jatim itu tidak berfungsi. Kecuali itu, IPAL yang dikelola Disperindag Provinsi sudah penuh, tidak muat lagi menampung limbah, apalagi memprosesnya," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan Bambang Setiawan kepada SURYA.co.id, Senin (2/11/2015).

Bambang juga mengaku sudah melayangkan surat peringatan ke Disperindag Provinsi Jatim sebegai pengelola IPAL dan pembuangan limbah B3 (sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun), namun belum pernah mendapat jawaban.

"Salah satu pengusaha kulit yang kini juga menjadi anggota DPRD minta izin menggunakan TPA (tempat pembuangan akhir) sampah untuk membuang limbah B3, saya tolak, karena TPA Pemkab Magetan saat ini semakin dekat dengan pemukiman warga. Karena itu, saya minta cari tempat sendiri untuk membuang limbah B3 itu," kata mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya ini.

Bambang juga membenarkan adanya pengusaha kulit yang memproses kulit di luar LIK UPT Disperindag Provinsi Jatim, yang limbah B3-nya langsung dibuang ke Sungai Gandong.

"Ini tugas polisi, pengusaha itu jelas kena sanksi sesuai Undang Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan dengan pidana 1 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar," jelas Bambang. 

"Mestinya pejabat provinsi belajar ke Bandung. Di Cibaduyut, banyak perajin yang mengolah kulit di rumahnya tapi bau bangkai dan amoniak tidak menyebar ke seluruh kota. Ini beda dengan Magetan. Kalau malam hari, kalau ada yang pingin wisata bau bangkai, busuk dan amoniak menyengat, datang ke Magetan," sindir Anis, pengusaha diler mobil warga RT2/RW3, Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Magetan kepada SURYA.co.id.

Sebenarnya, polusi udara bau bangkai dan amonia ini sudah berlangsung lama, tapi setiap laporan tidak ada tanggapan.

Setiap musim kemarau, air sungai Gandong kering sehingga limbah beracun di dalamnya jadi masalah.

"Kalau musim penghujan, meski limbah dibuang lebih banyak ke Sungai Gandong, bau bangkai itu tidak begitu menyengat, meski tetap bau. Tapi kalau hujan reda, bau bangkai menyengat kembali," katanya.

Ia berharap pemerintah bertanggungjawab atas limbah beracun yang dikelolanya agar tidak menyebar penyakit ke warga Magetan.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved