Industri
Pengusaha Bordir Sidoarjo Khawatir Rencana Pencabutan Subsidi Listrik
#SIDOARJO - Abdul Fuad (30) mengatakan saat ini ia berlangganan listrik untuk golongan 2.200 VA. Ia menjalankan usahanya di rumahnya.
Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Yuli
SURYA.CO.ID | SIDOARJO - Pengusaha bordir rumahan di Desa Panggul, Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, mengaku was-was terhadap rencana pencabutan subsidi tarif daya listrik (TDL) tahun depan.
Meski kenaikan tersebut rencananya hanya berlaku bagi pelanggan golongan 450 VA dan 900 VA, para pengusaha kecil ini tetap berharap tak berimbas ke pelanggan golingan lainnya.
Abdul Fuad (30) mengatakan saat ini ia berlangganan listrik untuk golongan 2.200 VA. Ia menjalankan usahanya di rumahnya.
Tempat membordir tepat di samping rumahnya yang disulap menjadi bengkel workshop. Ada empat pekerja yang menjadi operator mesin bordir buatan China. Fuad memiliki tiga mesin bordir elektrik yang menyedot daya sekitar 2.100 VA.
Jika sedang ramai pesanan, Fuad bisa membayar tagihan hingga Rp 50 juta. Fuad mengetahui rencana Pemprov Jatim untuk menghapus TDL bersubsidi.
Meski TDL untuk golongannya tidak termasuk rencana naik, ia tetap khawatir.
"Kalau sampai naik lagi, habis sudah usaha saya," keluh Fuad, Minggu (1/11/2015).
Fuad dan belasan pengusaha serupa di desanya membuat bordiran atribut seragam sekolah, seperti badge, bendera, logo, dan lainnya. Dalam sebulan, rata-rata ia mendapatkan omzet Rp 150 juta.
"Tapi itu kalau ramai, waktu musim masuk sekolah. Kalau seperti sekarang berkurang bisa setengahnya," sambungnya.
Fuad menerangkan TDL sangat krusial. Kenaikan TDL bisa berimbas kepada biaya produksinya. Bahan baku, seperti benang dan kain, akan naik, begitupun juga keperluan lainnya seperti transportasi.
"Efeknya domino dan saling terkait. Kalau kami naikan harga, pelanggan mengeluh," ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan Ali Murtadlo (42). Tetangga desa Fuad ini juga resah pencabutan subsidi tersebut berpengaruh kepada usahanya.
"Memang kenaikannya untuk beda golongan. Tapi listrik itu sama seperti BBM yang kalau naik, pasti harga-harga yang lain menyusul. Tak peduli pelanggan golongan mana," imbuh Ali.
Pemerintah bersama DPR telah sepakat memangkas subsidi listrik untuk golongan 450 VA dan 900 VA mulai 1 Januari 2016.
Subsidi hanya untuk kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin. Jika sebelumnya subsidi diberikan untuk semua pelanggan listrik di golongan tersebut, tahun depan subsidi hanya untuk 24,7 juta rumah tangga miskin dan rentan miskin yang masuk dalam data TNP2K.
Pemangkasan subsidi dilakukan seiring dengan penurunan alokasi subsidi listrik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2016.
