Rabu, 8 April 2026

Pendidikan Tinggi Harus Siap Bersaing di Tingkat Nasional-Internsional

PTS atau PTN harus menjadi agent of change masyarakat baik skala nasional maupun global.

Penulis: Satwika Rumeksa | Editor: Satwika Rumeksa
IST
Dr Djuwari saat presentasi 

SURYA.CO.ID | SURABAYA-IBC-Asia di Singapore mengundang Djuwari dosen dari Perbanas Surabaya, sebagai salah satu panelis di Konferensi Tingkat Tinggi Asia (Asia Summit) tentang Pendidikan Tinggi, pada 19-20 Oktober 2015 di Grand Waterfront Hotel, Singapore. Jauh sebelumnya, pada 28 Mei lalu, Djuwari ditelepon langsung dari Singapore.

Manajer konferensi, Mavis Yong, dari IBC Singapore telepon ke selular pribadi Djuwari untuk mengundang jadi panelis. Event ini dihadiri kalangan industri dan perguruan tinggi dari berbagai negara Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.

IBC-Singapore sebagai the best business and conference producer ini banyak pengalaman. Model diskusi KTT Asia ini, misalnya, dikelola sangat unik. Sebab, topik yang diberikan sudah harus dibahas jauh sebelum konferensi .

Sejak Mei lalu, Djuwari diajak diskusi lewat dunia maya. Topik yang ditentukan itu sudah dibahas sejak awal.. Tepatnya seminggu sebelum KTT, diskusi dihentikan dan diharapkan semua sudah membuat konsep.

Saat itulah, Djuwari sudah memiliki konsep gagasan yang dimasukan dalam power point. Yang menjadi kebangaan Djuwari, adalah ketika di hari H-nya, dengan topik How Much Emphasis Are Universities Putting into Partnerships, dia dijadwalkan maju lebih awal di antara empat orang team.

Menurut Ketua Panel, Dr Pierre Tapie, Founder of PAXTER, Paris-Singapore, konsepnya bisa mewakili bahasan pembicara berikutnya.

Ada beberapa hikmah dari KTT ini. Pertama, Pendidikan Tinggi (PT) harus siap bersaing tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. Untuk menghadapi persaingan ini, PTS atau PTN diharapkan bermitra dengan industri-industri dan dunia usaha. Ini untuk menghindari jurang pemisah (Gap) antara dunia pendidikan dan industri.

Kedua, PTS atau PTN harus menjadi agent of change masyarakat baik skala nasional maupun global. Mereka harus menjadi World Research Universities, dengan menekuni ilmunya setinggi mungkin. Itu sebabnya, penelitian dan daya kreativitas dosen terus dikembangkan.

Dalam hal ini, ada dua alternatif PTS atau PTN. Mau menjawab masalah sosial ketenaga-kerjaan atau menjadi agen perubahan. Namun, tidak semuanya menjadi praktis semata dengan menyediakan tenaga kerja untuk industri.

Sebab, kedalaman disiplin yang ditekuni bisa berubah menjadi pragmatis. Mereka juga harus menjadi agen perubahan sosial, ekonomi, dan bahkan budaya. Nilai-nilai lokal dan nasional tetap ditegakkan.

Ketiga, dosen khususnya, dituntut terus mengembangkan ilmu dan teknologi. Mereka harus bisa eksis agar namanya menjadi personal branding untuk PTS atau PTN di mana mereka berada. Sebab, berbagi ilmu kepada masyarakat global akan memperkenalkan nama lembaganya juga.

Intinya, dalam abad informasi ini, teknologi dimanfaatkan untuk membuat dirinya eksis. Sekarang, kepakaran seseorang sudah bisa dilacak melalui dunia maya. Dengan begitu, nama seseorang yang sudah melesat sering menjadi incaran untuk diundang sebagai nara sumber dan otomatis nama lembaganya terbawa.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved