Berita Surabaya

Bung Tomo Award ‘Berburu’ Pahlawan

Contoh lain, ujar Bambang, apakah guru masih bisa disebut pahlawan tanpa tanda jasa?

Bung Tomo Award ‘Berburu’ Pahlawan
surya/ahmad pramudito
Bambang Sulistomo (kiri). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Masih adakah jiwa kepahlawanan di era modern ini? Masih adakah yang mau berkorban dan melakukan sesuatu secara ikhlas untuk diri sendiri?

“Memang tak mudah menjawab itu. Karena kita lihat sendiri, yang semula mengaku relawan, ternyata toh belakangan minta kompensasi jabatan,” begitu sindir Bambang Sulistomo, putra pahlawan nasional Bung Tomo.

Bambang lalu melontarkan pertanyaan,”Apakah olahragawan bisa disebut pahlawan? Menurut saya nggak, karena faktanya dia ngejar medali kok!”

Contoh lain, ujar Bambang, apakah guru masih bisa disebut pahlawan tanpa tanda jasa?

“Lihat guru yang mana dulu? Guru sekarang, nggak menerima honor dari sertifikasinya saja sudah protes.”

Ditandaskan Bambang, guru yang tak hanya sekadar mengajar untuk mendapat gaji itu baru bisa disebut pahlawan.

“Jadi harus ada nilai pengorbanan dan keikhlasan dari setiap yang dia lakukan, itulah pahlawan!” katanya.

Menurut Bambang Sulistomo, Yayasan Jati Diri Bangsa (YJDB) yang dipimpinnya bersama Sedoeloeran Suroboyo berhasil menemukan sosok-sosok ‘pahlawan’ itu. Acara ‘berburu’ pahlawan itu bahkan sudah masuk tahun kelima.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Bung Tomo Award (BTA) kali ini tak membatasi pada bidang tertentu. Namun, ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu yang bersangkutan harus mengabdi pada bidang-bidang yang memberi efek positif bagi masyarakat sekitarnya.

“Bisa kurang dari 30 tahun, tapi kegiatan yang dilakukannya harus bersifat luar biasa dan berdampak luas terhadap nilai-nilai kepahlawanan, cinta Tanah Air, kearifan lokal di bidang yang diminatinya,” tegas Bambang.

Halaman
12
Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved