Pendidikan Surabaya
Pilih Jajanan Ndeso agar Masyarakat Mau Konsumsi Makanan Nonberas
”Para guru juga membantu membuat makanan yang agak sulit dibikin, seperti semawut dan tiwul. Sisanya, teman-teman yang memasak,” imbuh Iqbal.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Agus Pamuji kaget. Saat berhenti lampu merah di simpang Raya Gubeng-Pemuda, tiba-tiba gerombolan siswa SMP berbaju batik mendekat. Mereka menyodori pria asal Tambaksari, Surabaya, itu makanan ndeso, seperti getuk, tiwul, talas, kelepon, klanting, dan serawut.
”Lumayan buat makan siang,” katanya.
Para siswa SMP Muhammadiyah 2 Surabaya itu tak sedang berjualan. Jajanan yang mereka bawa, mereka berikan secara cuma-cuma pada para pengendara. Seorang siswa kelas IX, Ahmad Muhammad Iqbal, mengatakan, mereka tengah memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada Jumat (16/10/2015).
Jajanan ndeso sengaja diangkat sebagai tema karena karena para siswa ingin menggiring masyarakat untuk mengonsumsi makanan nonberas. Iqbal mengaku, ia dan para rekannya memasak sendiri jajanan itu. Bahan-bahan mereka beli dengan duit patungan.
”Para guru juga membantu membuat makanan yang agak sulit dibikin, seperti semawut dan tiwul. Sisanya, teman-teman yang memasak,” imbuh Iqbal.
Kegiatan itu sengaja dilaksanakan sebagai bentuk sosialisasi makanan nonberas. Ia bilang, langkah itu sebagai tindak lanjut program sekolah, yakni program bertukar makanan lokal.
Dalam program itu, siswa bisa bertukar makanan yang mereka buat kepada siswa lain. Misalnya, serawut ditukar dengan kelepon.
Kepala SMP Muhammadiyah 2 Surabaya Sudarusman mengatakan, pengenalan makanan nonberas kepada masyarakat perlu sebagai bentuk pengenalan makanan lokal.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum paham betul bahwa beras bisa digantikan kedudukannya sebagai makanan pokok.
”Orang di sini cenderung sudah punya pemahaman: belum makan kalau belum ada nasi. Nah, kami ingin menyampaikan juga bahwa hal itu salah,” ujarnya.
Kepada para siswa, bentuk pemahaman itu juga disampaikan secara riil. Di kantin yang dikelola sekolah, tak ada makanan yang berbahan basi. Sudarusman menuturkan tujuannya hal itu bukan untuk tidak memfasilitasi siswa soal makanan pokok. Di kantin itu, sekolah menyediakan pengganti nasi.
Pihak sekolah berharap, hal-hal lumrah seperti itu akan menumbuhkan rasa simpatik para siswa terhadap para petani. Mereka diharap lebih menghargai profesi itu seperti halnya mereka mengagungkan dokter, guru, dan insinyur.
”Mereka juga harus tahu bahwa petani tak hanya padi, tapi ada juga petani makanan tradisional yang mungkin jarang ditemui di Surabaya,” ungkap dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/smp-muhammadiyah-2-hari-pangan-sedunia_20151016_233533.jpg)