Citizen Reporter
Bubur Suran Tradisi Tahun Baru
setiap peringatan tanggal satu suro atau satu muharam, bubur suran ini tak pernah ketinggalan dihadirkan...
Oleh : M Nurroziqi
Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya/pegiat literasi/tinggal di Desa Sugiharjo-Tuban
SEPIRING bubur suran, dibuat dari beras ketan dan santan, ditaburi abon dan irisan hati ayam dan kacang tanah goreng. Sajian yang pasti ada dalam peringatan tahun baru 1 Suro atau 1 Muharom dan dijadikan penanda menyambut tahun baru.
Peringatan tahun baru 1 Suro 1949 atau 1 Muharom 1437 yang jatuh pada Selasa Malam Rabo 13 Oktober 2015, rutin diadakan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Tuban, tak pernah meninggalkan bubur suran sebagai wujud melestarikan tradisi.
Selain bubur suran, acara yang diadakan di gedung pertemuan Makodim 0811 Tuban sejak pukul 19.30 WIB itu juga menyajikan bubur pitu (tujuh) atau tujuh jenis bubur yang juga sebagai tradisi.
Bubur pitu di antaranya, bubur merah, bubur putih, bubur merah putih, bubur putih merah, bubur hijau, bubur kuning, dan bubur sengkolo.
Dari ketujuh bubur tersebut, hanya bubur sengkolo yang tak boleh dimakan. Bubur tersebut sengaja dibuat dengan rasa pahit sebagai simbol sengkolo atau keburukan manusia. Bubur tersebut akan segera dibuang setelah upacara peringatan tahun baru selesai, yang juga menyimbolkan membuang keburukan-keburukan yang ada di dalam diri manusia.
Tentu saja tidak hanya dua jenis bubur tersebut yang jadi sajian, juga terdapat bermacam hidangan untuk menyambut tamu di luar para warga dan siswa PSHT Ranting Tuban.
Jauh lebih penting dari peringatan menyambut tahun baru yang dipungkasi dengan puter gelang atau berjalan mengelilingi jalanan Kota Tuban sampai pukul 02.00 WIB adalah nuansa-nuansa hening penuh tirakatan sebagai upaya instrospeksi diri menemukan kesalahan-kesalahan di tahun kemarin untuk segera ditaubati. Kemudian mulai tahun ini diperbaiki dengan peningkatan kualitas diri yang jauh lebih baik.
Sebagaimana yang disampaikan Ketua PSHT Ranting Tuban, Sugeng Widodo, anggota PSHT harus terus menerus berupaya menjadi manusia yang senantiasa berbudi pekerti luhur, tahu benar dan salah, serta berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bubur-suran_20151015_183504.jpg)