Warga Tutup Area Bongkar Muat Batu Bara

Jika memang PT GJT nekat menjalankan usaha bongkar muat batu bara, maka warga tidak segan-segan menutup Jl RE Martadinata.

Warga Tutup Area Bongkar Muat Batu Bara
surya/sugiyono
BERMAIN VOLI – Warga dan pemuda sekitar PT GJT menikmati udara bebas debu batu bara, Kamis (8/10/2015).

SURYA.CO.ID I GRESIK – Indonesian National Shipowners Association (Insa) Kabupaten Gresik menyesalkan tindakan warga menutup area bongkar muat batu bara PT Gresik Jasatama (GJT) Jl RE Martadinata, Gresik.

“Seharusnya jika memang ada pencemaran lingkungan berupa debu. Masyarakat harus bisa menunjukan bukti-bukti secara ilmiah dan hasil uji laboratorium, tidak hanya meminta perusahaan bongkar muat batu bara ditutup atau relokasi. Ini yang dirugikan tidak hanya asosiasi, tapi perusahaan dan negara juga dirugikan,” kata Kasir Ibrahim, Ketua Insa Kabupaten Gresik, Kamis (8/10/2015).

Menurut Kasir, permasalahan polusi yang berujung pelemahan industri dan usaha negara harus bisa diselesaikan dengan duduk bersama sehingga tidak ada yang saling dirugikan.

Misalnya, jika permasalahan utama adalah debu batu bara, pihak GJT bisa membuat upaya dan usaha sampai debu tersebut tidak menyebar ke masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat, tidak hanya menghendaki relokasi atau penutupan perusahaan tapi bisa menjadi pekerja di PT GJT.

Usaha bongkar muat batu bara merupakan usaha negara sebab batu bara merupakan salah satu bahan bakar untuk industri yang selama ini dimanfaatkan industri di Gresik, Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo dan Lamongan.

“Bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) disebabkan perusahaan kolap karena tidak bisa produksi,” imbuhnya.

Belum biaya investasi untuk membuat crane dan puluhan kapal tongkang yang tidak bisa bongkar batu bara akibat keterbatasan alat crane di pelabuhan lain.

Jika dihitung satu tongkang biaya bongkar batu bara, mulai biaya antre dan biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk sekali kirim ke Jawa dari Kalimantan, bisa mencapai Rp 150 juta.

Sementara itu, setiap hari bisa membongkar 4 kapal tongang sehingga total sehari sudah Rp 600 juta. Penutupan usaha bongkar muat batu bara di area pelabuhan GJT sudah hampir 25 hari sejak ditutup Selasa (15/9/2015).

“Rp 600 juta sampai Rp 700 juta dalam sehari, sekarang sudah 25 hari. Tinggal dikalikan saja, sudah Rp 15 miliar,” katanya.

Halaman
12
Tags
INSA
Penulis: Sugiyono
Editor: Wahjoe Harjanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved