Berita Tuban

PNS BKD Raup Rp 353 Juta Hasil Penipuan CPNS

“Cara yang digunakan adalah menjemput bola menawari korban. Kemudian dia minta uang muka antara Rp 20 juta sampai RP 75 juta, total uang yang diterima

PNS BKD Raup Rp 353 Juta Hasil Penipuan CPNS
surya/Iksan Fauzi
Bukti Kuitansi- Kasubag Humas Polres Tuban, AKP Elis Suendayati menunjukkan foto dan bukti kuitansi pembayaran uang muka dari korban penipuan Wahyudi di Mapolres, Kamis (8/10).

SURYA.co.id |TUBAN - Anggota Polres Tuban menguak modus penipuan penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) oleh Wahyudi Hidayat (36) warga Desa Kutorejo, Kabupaten Tuban. Wahyudi berhasil mengelabui 12 orang yang kepincut ingin menjadi PNS di Kabupaten Tuban.

Dari 12 orang yang menjadi korbannya itu, Wahyudi meraup uang muka sebesar Rp 353 juta.

Uang sebesar itu diberikan kepada Wahyudi dengan janji, enam bulan sejak memberikan uang muka, mereka sudah bisa menjadi PNS.

Kasubag Humas Polres Tuban, AKP Elis Suendayati mengungkapkan modus Wahyudi kepada awak media di Mapolres, Kamis (8/10) siang.

Kata Elis, pada saat menipu korbannya, Wahyudi menjadi staf sekretariat di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Tuban.

“Cara yang digunakan adalah menjemput bola menawari korban. Kemudian dia minta uang muka antara Rp 20 juta sampai RP 75 juta, total uang yang diterimanya sebesar Rp 353 juta,” papar Elis.

Pada Mei 2015, penyidik mendapat informasi, Wahyudi adalah pelaku penipuan. Penyidik kemudian mengumpulkan bukti-bukti, termasuk mendapatkan berkas lamaran menjadi CPNS milik 12 korban serta kuitansi pembayaran uang muka.

Berkas masing-masing korban dimasukkan di dalam map dan berisi surat lamaran, ijasah legalisir, dan biodata.
Kuitansi pembayaran dimasukkan di masing-masing map . Kata Elis, masing-masing korban dikenai uang Rp 150 juta agar bisa menjadi PNS.

Elis menambahkan, pengungkapan kasus penipuan itu berawal informasi warga pada Mei 2015. Penyidik polres kemudian menindaklanjuti, termasuk menggeledah rumah pelaku dan menemukan berkas korban.

Setelah mendapatkan berkas itu, penyidik meminta keterangan dari para korban. Mereka minta supaya Wahyudi mengembalikan uang yang diberikannya. Wahyudi pernah menjanjikan akan menjual asetnya di Sidoarjo untuk membayar korban, tapi janji itu tak pernah terealisasi.

“Para korban melapor kepada kami pada 10 Mei,” kata Elis.

Hasil penyidikan, Wahyudi telah melancarkan aksinya sejak Agustus 2013, pada saat itu, dia masih aktif menjadi PNS Kabupaten Tuban. Akibat perbuatannya, penyidik mengganjar Wahyudi menerima gratifikasi sesuai pasal 12 huruf B UU 20/2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. Dia terancam hukuman penjara empat tahun dan maksimal seumur hidup.

Penulis: Iksan Fauzi
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved