Berita Jember
Hanya 9 Orang Jadi Tersangka Pengeroyokan Tim Peneliti ITS
#JEMBER - Delapan peneliti tanah dari ITS Surabaya diserbu ribuan orang di Desa Paseban, Kecamatan Kencong. Massa memukul mereka, juga merusak mobil.
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Yuli
SURYA.co.id | JEMBER - Penyidik Polres Jember menetapkan sembilan tersangka dalam kasus perusakan mobil milik Dinas Pengairan Pemprov Jawa Timur di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Jember beberapa waktu lalu. Mobil itu dirusak saat dipakai oleh tim peneliti tanah dari ITS Surabaya.
Selasa (22/9/2015), sembilan orang tersangka itu dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di Mapolres Jember. "Tetapi hanya tujuh orang yang datang, yang dua tidak datang. Nanti kami panggil kembali," ujar KBO Satreskrim POlres Jember Iptu Sujilan.
Ketujuh orang itu merupakan warga Desa Paseban. Polisi menerapkan Pasal 170 KUHP yakni kekerasan yang menyebabkan rusaknya barang yang dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama.
Sujilan belum bisa memastikan apakah ketujuh orang itu akan ditahan. Namun dalam pemeriksaan sebagai tersangka ini belum dilakukan penahanan.
"Pemeriksaan masih panjang, karena melibatkan banyak orang," imbuh Sujilan.
Sedangkan kuasa hukum para tersangka, Eko Imam Wahyudi menegaskan jika warga desa yang menjadi tersangka itu tidak terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
"Kebetulan mereka hanya ada di lokasi kejadian saat peristiwa itu berlangsung. Mereka tidak terlibat," ujar EKo Imam.
Karenanya, Eko Imam meminta penyidik tidak menahan mereka. Selain itu, ia juga meminta agar penyidik mencari aktor atau orang yang terlibat dalam penyerangan dan penganiayaan di pinggir Jalur Lintas Selatan itu.
"Carilah orang yang memang terlibat atau aktor intelektualnya," tegas EKo.
Beberapa minggu lalu, delapan peneliti tanah dari ITS Surabaya diserbu ribuan orang saat berada di Desa Paseban Kecamatan Kencong. Warga merusak truk dan mobil yang dipakai. Warga juga sempat memukul para peneliti dan teknisi penelitian tanah tersebut.
Warga menyangka para peneliti itu hendak mengambil sampel pasir yang akan dipakai untuk pertambangan. Sebab warga setempat menolak rencana penambangan pasir besi di kawasan itu.
Padahal tim peneliti ITS berada di tempat itu mengerjakan proyek penelitian tanah pesanan Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur. Tim meneliti kekerasan tanah di kawasan sekitar jembatan di JLS. Sebab tanah di sekitar jembatan ambrol akibat abrasi. Sebelum Pemprov membangun ulang plengsengan di kawasan itu, maka diterjunkan peneliti untuk mengeres struktur dan kekerasan tanah di tempat itu.
