Breaking News

Jatim Krisis Guru Bahasa Jawa

Apabila tidak ada guru sekolah atau jenjang lain yang mau mengajar, maka guru dengan mata pelajaran serupa bisa dijadikan solusi pengganti

Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Wahjoe Harjanto

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Data Dinas Pendidikan Jatim memperlihatkan saat ini terjadi krisis guru bahasa karena hanya ada 2.817 Guru Bahasa Daerah yang mengajar dari tingkat SD hingga SMA. Padahal pelajaran Bahasa Daerah wajib selama dua jam seminggu, jumlah guru Bahasa Daerah seharusnya 6.000 orang.

"Jawa Timur memang sangat kekurangan tenaga ajar Bahasa Daerah, baik untuk Bahasa Jawa maupun Bahasa Madura, khususnya di tingkat SMA. Untuk tingkat SD dan SMP mungkin masih terpenuhi. Tapi untuk jenjang SMA dan SMK ini yang kekurangan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Saiful Rachman ketika dikonfirmasi, Selasa (1/9/2015).

Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Soetjipto menjelaskan, walaupun mengalami kekurangan guru Bahasa Daerah, pembelajaran bahasa daerah masih tetap berjalan. Akan ada rangkap pengajaran dari tingkat SD hingga SMA. "Jadi guru bahasa daerah di SD juga mengajar di SMA/SMK," tutur dia.

Namun, apabila tidak ada guru sekolah atau jenjang lain yang mau mengajar, maka guru dengan mata pelajaran serupa atau mendekati bisa dijadikan solusi pengganti untuk mengajar pelajaran bahasa daerah. "Misalnya guru Bahasa Indonesia bisa mengajar bahasa daerah, ada ilmu tata bahasa daerah yang mirip dengan Bahasa Indonesia,” ungkap dia.

Selain itu, pembelajaran bahasa daerah di Jatim mengalami hambatan lainnya, yakni belum digandakannya buku Bahasa Daerah untuk kelas 7 SMP dan 10 SMA. Padahal, proses pembelajaran Tahun 2015-2016 sudah berjalan dua bulan.

"E-booknya ada dan tinggal diserahkan ke Kota/Kabupaten untuk dicetak dan dibagikan ke sekolah," tambah dia.

Kepala SMPN 6, Tri Wahyuni mengatakan, sementara ini siswa kelas 7 menggunakan buku Bahasa Jawa yang diperbanyak sendiri oleh sekolah.

"Silabusnya kan sudah diberikan dari Unesa tahun kemarin. Tapi ini anak-anak sementara pakai buku LANTIP yang diperbanyak sendiri. Selain itu, buku yang digunakan saat ini sesuai dengan silabus K-13. Intinya sama, sesuai jenjang yang dibutuhkan," terangnya ketika dihubungi Surya.CO.ID.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Tags
Dindik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved